Thursday, December 22, 2016

BANDA NEIRA : NELANGSA YANG BERAKHIR MESRA


Duo pop asal Bandung, Banda Neira. Akhirnya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Jumat 23/12 melalui akun resminya, mereka menyatakan untuk mengakhiri perjalanan yang telah mereka lalui selama kurang lebih 4 tahun. Setelah sebelumnya pada bulan Februari lalu, mereka lebih dulu mengeluarkan pernyataan untuk rehat dari dunia panggung, hal tersebut dilatari oleh sang vokalis yang harus melanjutkan jenjang studinya ke New Zealand dalam beberapa tahun kedepan.

Terbentuk di Universitas Parahyangan Bandung pada Februari 2012, Ananda Badudu dan Rara Sekar telah mengeluarkan 1 album mini bertajuk Paruh Waktu (2012) serta 2 album penuh yang mereka beri nama Berjalan Lebih Jauh (2013) dan Yang Patah Tumbuh, Hilang Berganti (2016).

Banda Neira telah mengakhiri kenelangsaan dengan penuh mesra. Dan perjalanan itu tidak akan dapat lebih jauh. Namun mereka meyakini bahwa semua yang telah patah akan kembali tumbuh sampai jadi debu.

Wednesday, December 21, 2016

KONSER BISA DI PASARKAN. POTENSI WISATA MUSIK INDONESIA

Photo: Rendha Rais
Berlatar judul konser dari Efek Rumah Kaca yang diselenggarakan di kota Bandung belum lama ini yaitu 'Pasar Bisa Dikonserkan' serta melihat fenomena yang sedang di gandrungi tentang antusias kalangan muda ber-plesir ke sejumlah daerah di Indonesia kurang lebih 2 tahun belakangan ini, Saya menangkap sebuah fakta bahwasanya kemampuan finansial anak muda untuk memenuhi hobi atau apapun yang menjadi kegemarannya itu sudah diatas rata-rata. 

Bukan hal yang murah untuk mengakomodir apa yang mereka sebut sebagai hobi itu, perlengkapan yang mereka butuhkan, biaya transportasi yang mereka keluarkan dianggap sebanding dengan kepuasan bathin yang mereka dapat. Lalu apa bedanya dengan para penggemar musik saat mendatangi suatu festival yang diselenggarakan di sebuah kota atau bahkan negara lain. 

Musik sebagai wisata adalah pilihan baru dari wisata konvensional yang selama ini kita ketahui. Di negara seperti Inggris dan Amerika festival musik tahunan adalah penyumbang devisa yang cukup besar bagi pemerintah. Tiap tahun nya festival musik berhasil mendatangkan pelancong lokal maupun mancanegara dalam jumlah yang sangat banyak. 

Seperti di lansir The Guardian tiket untuk Glastonbury 2016 habis dalam waktu 30 menit sejak penjualan tiket dibuka, pada Minggu (4/10). Dengan harga tiket sebesar US$346 atau Idr 4,9jt para pengunjung dari berbagai negara saling berebut untuk mendapatkan tiket perhelatan musik tahunan termahsyur di Inggris tersebut. Jumlah tersebut jelas belum termasuk biaya perjalanan, penginapan dan konsumsi mereka selama disana, jadi bisa dibayangkan berapa nominal yang harus di keluarkan setiap pengunjung jika hendak pergi kesana. 

Tidak berbeda dengan di Indonesia, berbagai festival musik tahunan kerap kali di gelar dan tak ayal mendatangkan pengunjung yang tidak sedikit jumlahnya. Kita ambil contoh Java Jazz Festival yang digelar selama 3 hari, tiketnya dijual dengan harga tertinggi yaitu 1,1jt. Jika pengunjung datang dari luar Jakarta maka dibutuhkan biaya penginapan di hotel. Jasa penitipan kendaran pun menjadi bahan pertimbangan bagi pengunjung karena nominalnya yang cukup besar untuk ukuran normal, ditambah lagi dengan biaya konsumsi selama pagelaran berlangsung yang paling tidak merogoh  kocek sebesar 100rb dalam sekali makan. Jika di hitung rata - rata seorang pengunjung harus mengeluarkan uang sebesar 2jt sampai dengan 3jt untuk pagelaran tersebut. Namun hal ini acap kali tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah untuk regulasinya. 

Bergeser ke festival musik di tiap daerah di Indonesia seperti Bandung Berisik di Bandung, Rockin Solo di Solo, Jazz Gunung di Bromo, Rock In Celebes di Sulawesi, Kukar Rockin Fest di Kalimantan dan masih banyak lainnya. Bukan kah itu semua adalah daerah yang juga menjadi destinasi para wisatawan konvensional, sayangnya pemerintah pusat tidak mampu menjual festival di tiap-tiap daerah tersebut sebagai komoditi wisata. Dan pada akhirnya para promotor event itu sendiri lah yang harus menjual acaranya kepada para pengunjung domestik ataupun internasional. 

Pertunjukan musik pada zaman sekarang adalah sebuah industri yang tidak dapat di pandang sebelah mata nilai pemasukannya, dan Indonesia termasuk negara yang cukup beruntung karena kaya akan festival musik tahunan berskala internasional seperti halnya Glastonbury, Lollapaloza, 

Download Festival dan masih banyak lagi. Ini adalah wisata jenis baru yang jelas sangat memancing pengunjung dalam jumlah yang sangat banyak dalam pelaksanaannya.

Friday, September 30, 2016

JANGAN LAKUKAN 5 HAL INI JIKA UANG LOGAM BERGAMBAR WAJAH PAHLAWAN RESMI DITERBITKAN

Pahlawan adalah bukti kegagahan suatu bangsa.

Beberapa minggu ini, cukup ramai bertebaran berita tentang akan diterbitkannya uang rupiah dengan desain baru yang akan dicetak oleh Bank Indonesia melalui Perum Peruri pada akhir tahun ini, tepatnya ada 11 sosok pahlawan yang akan menghiasi tampilan uang baru tersebut, 7 diantaranya akan berada pada uang kertas dan 4 pada uang logam.

Jika kita berbicara tentang uang kertas, sosok pahlawan yang ada didalamnya adalah hal yang sudah biasa, karena memang uang kertas yang beredar selama ini telah menggunakan wajah pahlawan sejak lama. Namun akan menjadi sebuah sejarah baru jika hal tersebut diterapkan untuk uang logam, pasalnya selama ini uang logam dibuat dan di edarkan kepada masyarakat selalu bergambar flora atau fauna endemik khas Indonesia.

Diberitakan, 4 sosok pahlawan yang akan berada dalam uang logam tersebut diantaranya Pahlawan Nasional Mr. I Gusti Ketut Pudja dengan pecahan Rp 1.000, Pahlawan Nasional Letnan Jendral TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang dengan pecahan Rp 500, Pahlawan Nasional Dr. Tjiptomangunkusumo dengan pecahan Rp 200 dan Pahlawan Nasional Prof. Dr. Ir. Herman Johanes dengan pecahan Rp 100. 

Lalu, kita tentu paham tentang betapa terhormatnya gelar pahlawan yang disandangkan kepada sosok-sosok berjasa untuk negara tersebut, hal itu juga telah diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009 tentang tata cara penggunaan lambang negara dimana terdapat ancaman sanksi pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000 jika kita kedapatan melanggarnya.

Adapun 5 hal yang tidak boleh lagi dilakukan jika uang logam bergambarkan sosok pahlawan:

1. Di Lubangi Untuk di Jadikan Cincin

Kalau kalian anak yang besar ditahun 2000-an pasti tahu kegiatan ini, biasanya uang logam pecahan gope-an warna keemasan dengan gambar bunga melati yang selalu dijadikan sasaran empuk mengasah kreatifitas. Uang itu dilubangi menggunakan paku, terus di gerinda sampai tersisa bagian pinggirnya saja, lalu digosok pakai braso atau minyak tanah supaya makin mengkilat hasilnya. Zaman itu juga kita percaya bahwa semakin tua tahun produksinya katanya makin banyak kadar emas yang ada didalamnya,makanya kalau di jadin cincin lebih bagus.

2. Di Lubangi Untuk di Jadikan Kalung

Karena menemukan koin cina yang tengahnya berlubang termasuk susah pada saat itu, jadilah anak-anak pada zaman itu mencari alternatif lain agar tetap keliatan keren dan bergaya, hampir sama dengan proses membuat cincin tapi kalau ini lubangnya dibuat kecil dan berada di tepi lingkaran koin. Tapi karena gaya-gayaan itu dibawa ke sekolah untuk ajang pamer, dan alhasil kalung koin handmade itu menjadi sitaan pihak guru karena memang rata-rata setiap sekolah melarang muridnya menggunakan kalung, seperti preman katanya.

3. Untuk Kerokan

Sepertinya kalau ini masih dilakukan sampai sekarang ya, pasti kalau ada keluarga atau temen yang mengeluh masuk angin langsung minta tolong dikerokin pakai uang logam, tapi biasanya cuma uang logam emas saja diminati, karena kalo pakai koin yang perak banyak yang kesakitan karena sisi lingkarannya yang tidak halus. Kenapa kerokan juga dilarang? kan engga merusak koin. Yap... memang benar kerokan dengan koin tidak merusak bentuknya, tapi pernah tidak kalian menemukan koin yang kotor, buluk dan menghitam karena terlalu seringnya terkena balsem dan kotoran badan (daki) dari orang yang dikerok? Haha.

4. Dilempar ke Kolam Ikan atau Situs Bersejarah

Yang ini agak berbau mistis atau tahayul, dan sepertinya masih banyak dilakukan oleh sebagian orang yang sedang travelling ke tempat-tempat kuno/ bersejarah di pelosok daerah. Dengan keyakinan bahwa jika kita melemparkan koin kedalam air sambil memohon doa dalam hati, maka segala permintaan kita akan terwujud. Sebenarnya ini juga tidak merusak bentuk dari uang logam tersebut, tetapi kegiatan itu sama seperti membuang dengan sengaja simbol negara dimana terdapat pula gambar pahlawan didalamnya, dan sepertinya akan ada juga sanksi bagi siapapun melakukan itu. Dan bila boleh saya memberi saran, mungkin lebih baik jika uang logam itu kita tabung dalam celengan ayam yang jelas-jelas dapat mengkabulkan doa kita untuk membeli mobil 10 atau 20 tahun yang akan datang.

5. Terserak di Jalanan Karena Dianggap Tidak Bernilai

Kadang kita jumpai di pinggir jalan dalam keadaan rusak akibat terlindas motor atau mobil, tapi kita juga tidak menghiraukannya karena dianggap tidak dapat di belikan sesuatu, umumnya itu uang logam dengan nominal Rp 100 atau Rp 200. Namun jika nanti yang kalian temukan di jalan adalah uang logam dengan gambar pahlawan nasional kita, apakah kita tega dan tetap membiarkan gambar ksatria yang berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia itu terinjak-injak oleh para pejalan kaki yang lalu-lalang? Jawabannya ada dihati kalian masing-masing.

Jadi bagaimana, masih ingin menyia-nyiakan uang logam jika desainnya sudah bergambar pahlawan nasional kita? dan jangan lupa juga bahwasanya ada sanksi hukum yang siap menjerat kita, karena sejatinya uang dan gambar pahlawan adalah simbol atau identitas dari negara kita yang telah diatur oleh undang-undang.

HARI GINI CITA-CITA JADI PAHLAWAN? KLISE!

Kita sebagai anak muda yang masa kecilnya selalu dijejali dengan berbagai kartun kepahlawanan asal jepang, dimana bertarung adalah satu-satunya jalan untuk menumpas kejahatan. Pada saat kanak-kanak pula, sosok pahlawan yang kita amini adalah seorang tokoh yang mengenakan topeng dan seragam yang selalu siap sedia menolong dimanapun dan kapanpun ia berada. Di usia sekolah, kita kembali ditawarkan dengan varian pahlawan nyata dari sosok lokal yang berjuang  memerangi penjajah dimasa kemerdekaan. Kita diwajibkan menghafal setiap nama yang ada di poster ruang kelas sekolah pada saat pelajaran sejarah berlangsung. Dari sana wawasan kita dibuka bahwasanya tidak selamanya pahlawan akan memenangkan pertempuran dan hidup bahagia diakhir cerita seperti di film kartun minggu pagi yang dulu kita tonton.

Namun apakah susah menjadi pahlawan hari ini?.

Kita memang tidak sedang dalam bahaya serangan monster-monster menyeramkan yang siap menghancurkan dunia beserta isinya, kita juga tidak sedang dalam invasi militer bangsa lain dimana mereka menjajah negara kita seperti 71 tahun silam. Namun bukan berarti kita harus melakukan hal serupa dan mempertaruhkan nyawa kita untuk bisa menjadi seorang pahlawan, di zaman ini kita dihadapkan dengan penjajahan yang jauh lebih kejam dan tidak berperikemanusiaan yang justru dilakukan oleh oknum dari bangsa kita sendiri, yaitu korupsi. Itu adalah kejahatan yang wajib kita lawan sebagai anak muda guna menciptakan kemerdekaan yang hakiki di negeri ini. Oleh karena itu, masih sangat terbuka kesempatan bagi kita anak muda untuk menjadi pahlawan, khususnya untuk berperang melawan korupsi di Indonesia.

Memang hingga saat ini negara belum pernah meng-anugerahkan penghargaan bagi mereka yang mati-matian memerangi korupsi di negeri ini, apalagi membuatkan patung monumental guna mengenang jasa pegiat anti korupsi, maka jangan pula mengharapkan pemerintah akan  memberikan tunjangan sebesar Rp. 50jt pertahun untuk ahli waris dari pahlawan anti korupsi seperti yang mereka berikan kepada pahlawan konvensional. Meskipun tanpa monumen dan penghargaan bukan berarti para pejuang anti korupsi tersebut lantas akan dilupakan jasa-jasanya, justru nama mereka akan selalu harum dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia yang selalu memimpikan kesejahteraan merata di republik ini.

Jika masih banyak anak muda yang berpikiran bahwa bila ingin menjadi seorang pahlawan itu harus siap gugur dalam medan perang dan bersimbah darah, hidup sengsara serta wajib mengangkat senjata. Lekas ubah pola pikir yang seperti itu kawan, memang saat ini yang kita perangi adalah musuh yang paling jahat, namun musuh terjahat ini justru dapat kita kalahkan hanya dengan tindakan paling sederhana, yaitu gelengkan kepala dan katakan tidak pada korupsi. Sekilas memang terdengar basi, tapi hanya itu cara paling ampuh untuk dapat memberantas korupsi, kolusi serta nepotisme.

Hanya dengan berkata Tidak! pada tawaran menggiurkan tersebut kita telah memutus mata rantai praktek-praktek korup yang lainnya, dan jika itu dilakukan secara masif oleh seluruh anak muda yang notabene akan menjadi pemimpin suatu hari nanti, maka yakinilah Indonesia akan menjadi negara yang sejahtera dan maju. Sangat mudah bukan? lantas tunggu apalagi? Ini adalah satu-satunya cara yang paling mudah untuk kita sebagai anak muda untuk menjadi pahlawan bagi tanah kelahiran kita. Spread this action and become the next heroes!

Friday, September 23, 2016

WARPAINT MERILIS ALBUM BARU BERJUDUL "HEADS UP"


Supergirl indie rock psychedelic asal Los Angeles, California, Warpaint secara resmi merilis albumnya pada tanggal 23 September kemarin, seperti dilansir dari official website mereka, album penuh ke 3 setelah The Fool 2010 dan Warpaint 2014 ini diberi judul Heads Up dan digarap oleh Rough Trade Records selaku label rekaman mereka.

Heads Up sendiri mereka kerjakan mulai Januari 2016, setelah sebelumnya sepanjang tahun 2015 para personil disibukan dengan project solonya masing - masing. Album ini diproduseri oleh Jacob Bercovici, orang yang juga bertanggung jawab atas debut EP mereka bertajuk Exquisite Corps yang dirilis pada tahun 2008 secara berdikari.

Direkam di dua studio berbeda, yaitu di Papap's Palace dan studio pribadi mereka House on The Hill, yang berlokasi di pusat kota Los Angeles. Proses rekaman album ini cukup terbilang baru bagi para personilnya, dimana untuk pertama kalinya mereka melakukan rekaman secara berpasangan atau terpisah per-instrumen, bukan yang seperti biasa mereka kerjakan yaitu secara live.

Band yang berangotakan Emily Kokal (gitar/vokal), Theresa Wayman (gitar/synth), Jenny Lee Lindberg (bass) dan Stella Mozgawa (drum) ini melepas sebelas lagu pada album mutakhirnya. Setelah sebelumnya mereka melepas single pertama yang berjudul "New Song" pada hari Senin (1/8) via kanal YouTube mereka, dilanjut dengan lagu "Whiteout" tepat satu bulan kemudian.

Dengan metode penjualan Pre-Order, album tersebut sudah dapat dipesan via situs resmi label rekaman mereka, tersedia empat format rilisan yang mereka tawarkan secara terpisah yaitu Deluxe LP, Standard LP, CD dan MP3. Sementara untuk versi digital sudah terdistribusi di iTunes, Amazon.com, Spotify dan Apple Music.

Dalam pembelian Deluxe LP, terdapat piringan hitam dan merah muda dilengkapi dengan vinyl format 7 inch berisikan lagu "I'll Start Believing" dan "No Way Out" beserta kode download digital album. Dan untuk 500 pemesan Deluxe LP ataupun CD yang pertama akan mendapatkan postcard yang telah ditanda tangani, sementara selebihnya hanya akan mendapatkan postcard tanpa tanda tangan.

Sunday, August 21, 2016

MILITIALLICA

Masih tergambar sangat jelas di ingatan saya tentang kemegahan panggung mereka di Stadion Utama Gelora Bung Karno malam itu. Tentang betapa rapihnya tata panggung dan dentuman mega audio yang mereka ciptakan pada malam itu, serta lagu Hit The Lights yang menjadi nomer pembuka dan di sambut dengan teriakan histeris oleh sekitar 60 ribu penonton yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno pada saat itu. 

Kabar yang deras mulai membanjiri timeline media sosial tentang berita kedatangan James Hetfield cs ke Indonesia untuk kedua kalinya. Jelas ini merupakan berita yang sangat ditunggu oleh para metalhead nusantara, lantaran Metallica adalah salah satu band metal terbesar yang ada di dunia saat ini, serta faktor lain yang juga tak kalah mendukung adalah ajang nostalgia bagi para penggemar yang sempat menyaksikan mereka 20 tahun yang lalu.


Jelas untuk saya penampilan Metallica di tahun 1993 hanyalah sebuah dongeng yang tak habis di agung-agungkan oleh ayah saya serta banyak musisi yang dengan bangga bercerita via artikel sebuah majalah atau YouTube tentang kerusuhan yang di akibatkannya. Cerita tentang Stadion Lebak Bulus yang mencekam pada saat itu dan cerita tentang audio yang di hasilkan pada saat itu terdengar hingga wilayah Bintaro, tempat ibu dan ayah saya tinggal dahulu.


Ya, saya tidak tahu pasti tentang kebenaran cerita tersebut, karena memang saya tidak mengalaminya sendiri. Namun itu menjadi sebuah dongeng terkeren yang di ceritakan ayah saya pada saat saya menginjak bangku sekolah menengah pertama dan selalu terngiang serta dengan bangga kembali saya ceritakan kepada banyak teman saya, seolah saya menyaksikan sendiri konser Metallica pada saat itu. Haha..


Tempat pertunjukan serta harga tiket masuk sudah resmi di publish oleh pihak promotor pada saat itu. Blackrock Entertainment lah yang bertanggung jawab akan lawatan Metallica ke Indonesia pada tahun 2013. Sebuah Event Organizer yang terbilang baru untuk kancah pertunjukan musik pada saat itu, dan jelas hal tersebut memicu keraguan dari ribuan penggemar yang hendak menonton band pujaan mereka. Timeline di twitter sontak penuh dengan berbagai kabar miring yang disertai opini-opini tidak jelas dari para penggemar fanatiknya. Namun hal tersebut langsung di respon oleh pihak Blackrock Ent. dengan mengadakan konferensi pers di kantor Rollingstone Indonesia. Dalam wawancara yang bertempat di Rollingstone Cafe di bilangan Ampera Jakarta Selatan pihak Blackrock Ent. membenarkan kabar yang sudah viral di media sosial tersebut dengan memamaparkan kesiapan mereka untuk konser tersebut.


Jelas hal ini bagai mimpi yang menjadi nyata bagi saya pribadi, karena menjadi sangat tidak terbayangkan jika saya dapat menyaksikan penampilan kedua mereka di Indonesia dan bukan tidak mungkin akan menjadi kedatangan terakhir mereka ke negara kita mengingat kondisi umur dan kesehatan mereka. Spekulasi tersebutlah yang mendorong saya dan mungkin banyak para metalhead Indonesia untuk menonton konsernya.


Berita yang tersebar sudah dapat dibilang meyakinkan, lalu yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah soal harga tiket yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa seperti saya pada saat itu. Di bandrol dengan harga mulai dari 400 ribu untuk tribun, 680 ribu untuk festival (standing) dan jutaan rupiah untuk kelas vip. Maka yang saya pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya untuk menabung dan mencari uang tambahan agar dapat membeli tiket tersebut. Di sisi lain, dalam lini media sosial khususnya twitter, hashtag gerakan #demimetallica mulai ramai dan menjadi cara alternatif untuk mendapatkan uang dengan cara menjual segala macam benda dengan harga yang relatif murah. Gerakan ini bermunculan di berbagai daerah dan sempat menjadi treding topic di twitter karena massalnya.


Melihat fenomena tersebut, saya lantas berfikir hal serupa guna mendapatkan uang dengan cepat. Saya yang pada saat itu memiliki kendaraan berupa Honda S90 dan saya modifikasi bergaya Cafe Racer, coba saya jual demi membeli tiket dengan harga 680 ribu tersebut. Namun tidak secepat yang saya pikirkan hingga akhirnya motor saya itu laku terjual. Karena memang benda kesayangan saya itu baru saja selesai saya restorasi hingga tampak cantik, jadi saya dengan percaya diri menjualnya dengan harga yang cukup tinggi. Sempat terbesit dalam benak saya, kalau memang motor saya itu tidak laku terjual karena harganya yang terlalu mahal, saya akan merelakan untuk tidak menonton Metallica pada saat itu. Kalau memang saya memang berjodoh dengan konser tersebut saya yakin akan dapat membeli tiketnya selain dengan cara menjual motor saya. Saya tidak terlalu ambisi akan hal tersebut.


Namun kabar yang sangat mengejutkan tiba-tiba muncul beberapa hari sebelum konser tersebut digelar. Diberitakan konser Metallica di Jakarta tersebut akan dibuka oleh band ibu kota, dan yang terpilih untuk gelaran besar tersebut adalah unit rock/ metal asal Selatan Jakarta, Seringai. Sontak saya terkejut dan amat sangat kegirangan karena sedari tahun 2005 saya sangat mengagumi band Arian13 cs. tersebut. Sunguh mengejutkan bila band yang saya kagumi sejak sekolah menengah dapat menjadi band pembuka yang menjadi dongeng semasa saya kecil. Ini tidak boleh dilewatkan...!!!


Kondisi pada saat itu motor yang saya hendak jual belum juga laku, langsung saja dengan semangat membara untuk dapat menyaksikan Seringai berbagi panggung dengan Metallica, saya turunkan harga jualnya. Awalnya saya membuka harga untuk motor tua saya tersebut adalah 10 juta, lantas langsung saya hubungi orang-orang yang sempat menawar harga motor tersebut via pesan singkat. Dan jadilah motor saya laku terjual dengan harga 5,5 juta saja. Ya saya melakukan hal tersebut karena Seringai lah yang menjadi band pembuka untuk Metallica, jika bukan Seringai mungkin akan beda ceritanya.



 

Tiket sudah di tangan ketika waktu menunjukan pukul 14.00 wib pada hari Minggu 25 Agustus 2013. Lekas saya bergegas menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno karena telah ditunggu oleh seorang teman yang sudah terlebih dahulu menukarkan tiket di Seven Eleven Senayan. Di area Senayan sudah sangat banyak orang-orang dengan berpakaian serba hitam bertulisakan Metallica di bajunya. Bis antar kota ber-plat nomor daerah sudah berjejer parkir disekitaran Senayan dengan bendera bertuliskan Metallica from Solo, Metallica from Surabaya, Metallica from Medan dan masih banyak lagi asal daerah para calon penonton konser tersebut.


Dengan keriaan yang tergambar jelas pada wajah mereka, sambil bernyanyi lagu-lagu dari Metallica mereka terasa sudah tidak sabar untuk menunggu open gate yang di jadwalkan pada pukul 17.00 wib. Semua orang bersuka cita menantikan dentuman drum Lars Ulrich, bass Trujilo, raungan gitar Kirk Hammet dan teriakan Jame Hetfield. Banyak awak media yang juga tidak mau melewatkan kesempatan untuk meliput konser terbesar dan termegah yang dihadiri oleh ribuan orang tersebut.


Waktu yang dinantikan akhirnya tiba, saat gerbang mulai dibuka serentak ribuan orang mencoba masuk guna mendapatkan posisi paling terdepan dalam konser tersebut. Pemeriksaan tiket, keamanan dan botol-botol minuman berjalan cukup rapih dan ter-organisir dan tidak memakan waktu yang lama, sekitar menunggu setengah jam akhirnya saya dapat masuk kedalam lapangan yang rumputnya sudah berwarna putih (karena menggunakan pengaman rumput). Lantas terlihatlah sebuah panggung super megah dengan jejeran audio system di kanan dan kirinya serta dua buah layar LED yang juga di kanan, kiri dan belakang panggung. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa tatkala saya membayangkan mega metal band asal Amerika seperti Metallica dan Seringai yang akan berada di pangung megah itu beberapa saat lagi.


Konser dibuka dengan penampilan oleh kolektif rock oktan tinggi, Seringai. Mereka tidak sendiri dalam keriaan panggung besar tersebut, lagu pertama di buka oleh Seringai bersama penyanyi pop yang sedang bersinar namanya di jagat musik Indonesia. Raisa di daulat untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di depan ribuan penonton berkostum serba hitam tersebut, suara yang indah dan paras yang cantik akhirnya berhasil membuat koor paduan suara bergema di Stadion Utama, momen ersebut memukau para metalhead dan sukses membuat bulu roma bergidik dengan lagu dan lirik nasionalisnya.


Tak makan waktu lama Seringai langsung saja menghentak dengan lagu Program Party Seringai yang di sambut oleh gemuruh penonton yang semakin menggila dan di lanjut dengan lagu Mengadili Persepsi "Bermain Tuhan", Dilarang di Bandung feat Eben Burgerkill dan mereka tak lupa mengcover lagu dari unit rock n roll ala Lemmy Kilmister cs. yang berjudul Ace Of Spades. Memang penampilan Seringai pada malam itu diluar ekspektasi saya sebagai orang yang menunggu mereka di panggung itu, pasalnya audio yang mereka keluarkan sangat kurang baik untuk ukuran panggung sebesar itu. Namun apa daya, karena pada dasarnya setiap band pembuka pasti diberi ketentuan yang di tetapkan oleh pihak band utama yang mempunyai hajat, termasuk soal seberapa besar daya audio yang boleh di keluarkan. Namun itu tidak menjadi soal bagi saya pribadi, karena dengan dapat menyaksikan mereka berbagi panggung dengan Metallica adala suatu kebanggaan tersendiri yang tidak akan pernah saya lupakan.


Tak lama berselang setelah Seringai menghajar panggung, suara lagu pengantar yang bejudul Ecstasy Of Gold berkumandang sontak membuat semua penonton berteriak histeris, itu merupakan tanda bahwa sesaat lagi Metallica akan menyapa penggemarnya di malam itu. Tak lupa LED yang ada di kanan kiri dan belakang panggung memvisualisasikan gambar dari video The Good, The Bad and The Ugly yang sudah sangat melekat pada setiap penampilan Metallica di panggungnya. Semua penonton sangat hikmat namun di sisi lain juga histeris saat melakukan koor yang tak kalah membuat merinding.


Lalu satu persatu personil Metallica pun muncul keatas pangung dari balik layar LED berukuran besar yang ada di belakang set drum Lars Ulrich dan Hit The Lights pun langsung memacu awalan pertunjukan super sempurna tersebut. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang saya dengarkan pada saat Seringai membuka konser tersebut, pasalnya audio yang di keluarkan pada saat Metallica diatas panggung amat sangat spektakuler dan sangat menyentak namun tidak membuat sakit telinga para penonton. Apa  yang terdengar di depan panggung dengan yang ada di rekaman mereka baik itu melali format digital ataupun analog, semuanya sangat serupa. Benar-benar manajemen audio yang sangat hebat yang membuat Metallica pantas menjadi sebesar itu.


Total ada 15 lagu ditambah 3 lagu encore yang dimainkan Metallica pada malam itu, seperti Master of Puppets, Fuel, Ride The Lightning, Fade To Black, The Four Horsemen, Cyanide, Welcome Home (Sanitarium), Sad But True, Orion, One, For Whom The Bell Tolls, Blackened, Nothing Else Matters, Enter Sandman dan encore seperti Creeping Death, Fight Fire With Fire dan Seek And Destroy sebagai lagu penutup. Semua lagu yang mereka bawakan di atas panggung sangat memukau dan sangat mirip seperti hasil rekamannya. Ditambah lagi yang amat saya tidak bisa lupakan adalah saat sekumpulan orang di barisan depan melemparkan sebuah bendera merah putih keatas panggung dan bertuliskan Metallica Solo - Indonesia. Dan semua penonton di dalam Stadion tersebut berteriak dengan penuh kebanggaan, begitupula dengan saya.


Dan satu hal lagi yang menjadi perhatian saya atas kondisi diatas panggung Metallica, yaitu keadaan panggung yang rapih dan sama sekali tanpa unit amplifier yang biasanya sering kita jumpai di konser band dalam maupun luar negri yang lain. Diatas panggung hanya diisi oleh sejumlah speaker monitor dan beberapa mikrophone sang vokalis, tidak ada yang lain. Hal tersebut membuat panggung terlihat besar dan rapih serta membuat para personil Metallica bebas berlarian kesana-kemari guna memeriahkan aksi panggung.


Sungguh konser yang sangat amat berkesan untuk saya secara pribadi, dari mulai perjuangan mencari uang untuk membeli tiket, proses menjual motor kesayangan yang sudah lama sama restorasi, membulatkan tekad untuk menonton hanya karena Seringai yang didaulat sebagai band pembuka Metallica sampai menyaksikan betapa kualitas band metal kelas dunia didepan kedua mata saya sendiri yang nyaris tanpa celah. Dan itu semua menjadi sebuah kenangan yang semoga dapat terulang kembali di masa yang akan datang, paling tidak jika hal tersebut tidak akan terulang saya dapat menjadikannya sebuah dongeng yang menarik bagi anak dan cucu saya kelak saya tua nanti.

Friday, August 12, 2016

SOSIOPOLITIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PAGELARAN MUSIK

Sebuah notifikasi media sosial tiba-tiba masuk ke telepon genggam saya sore itu, beberapa orang teman rupanya telah menandai akun instagram saya dalam sebuah berita dari majalah musik tentang rencana kedatangan musisi mancanegara ke Indonesia untuk kali kedua. Musisi asal Inggris mantan frontman The Smiths dikabarkan akan menggelar konser di Jakarta pada bulan Oktober mendatang, setelah sebelumnya pada tahun 2012 ia pernah menyapa penggemarnya di Tennis Indoor Senayan.

Namun tanpa sadar, fikiran saya langsung berlari kepada kasus kemanusiaan yang sedang ramai menjadi perdebatan. tentang hukuman mati pengedar narkoba Fredi Budiman di Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan. Dimana Indonesia sedang menjadi sorotan dunia karena dinilai melanggar hak asasi kemanuasiaan. Lalu pertanyaan aneh mulai hadir di kepala saya, apakah kasus kemanusiaan tersebut akan membuat Morrissey membatalkan rencana konsernya di Jakarta? mengingat Morrissey adalah sosok yang cukup lantang mengangkat isu sosial dalam karir bermusiknya.

Morrissey sangat kencang menyuarakan anti kemewahan ala keluarga kerajaan Inggris dengan pembuktiannya dalam beberapa konsernya di berbagai negara. Moz juga lantang menyuarakan hidup sehat dengan beberapa wawancaranya ia menegaskan bahwa ia adalah Vegan (sebutan untuk kaum Vegetarian), namun disisi lain ia juga cukup vokal menyuarakan anti pembataian terhadap satwa seperti dalam lagu yang ia buat berjudul Bullfighter Dies dan Meat Is Murder. Hal tersebut menegaskan bahwasanya sosok Morrissey adalah orang yang peduli terhadap situasi sosial dan politik dan maka kiranya ini menjadi ketakutan konyol, yang semakin dipikirkan justru semakin masuk akal.

Dalam konteks artis, kita membicarakan musisi internasional dan rencana lawatannya ke Indonesia. Dan dalam hal ini pula, kita pasti sudah mengetahui bahwa para musisi tersebut memiliki sederet persyaratan yang wajib di penuhi oleh pihak promotor, atau dikenal dengan sebutan riders. Berbagai macam persyaratan yang di minta oleh artis mancanegara, dari hal yang dapat di kabulkan hingga yang mustahil untuk di wujudkan, dan ujung-ujungnya membuat sang artis menjadi enggan untuk menggelar konsernya di negara tersebut.

Seperti halnya U2, Bono dkk adalah salah satu musisi yang dianggap sulit untuk di boyong ke suatu negara, pasalnya U2 beserta manajemen nya menerapkan persyaratan yang cukup menyulitkan bagi para promotor untuk setiap tour dunianya. Kabarnya Bono dan kawan-kawan hanya akan menggelar konser disuatu negara, jika negara tersebut sudah memenuhi hak asasi manusia, terutama perekonomian warganya. Logikanya, untuk apa ada konser megah namun hanya semakin memperjelas kesenjangan sosial warga negaranya.

Lalu ada band metal legendaris yang beberapa tahun lalu baru saja melakukan konser di Gelora Bung Karno, Metallica. dengan proses yang panjang James Hetfiled cs dapat di bujuk untuk menggelar konser keduanya di Indonesia. Namun dibalik itu semua, nyatanya Metallica dalam lawatannya tahun 2013 lalu membawa suatu pergerakan kesehatan dalam semua tournya, termasuk di Jakarta. Semua promosi produk rokok tidak diperkenankan pada saat itu, ya alasannya karena mereka dalam konsernya membawa pesan anti rokok. Dan masih banyak lagi musisi mancanegara yang memberlakukan hal tersebut guna dapat melakukan perubahan untuk dunia dalam koridor mereka. 

Lalu bagaimana dengan Morrissey? akankah Indonesia dengan segala pelanggaran hak asasinya menjadi bahan pertimbangannya untuk tampil kembali di Jakarta? Namun jika menelisik bahwa ini adalah kunjungannya yang kedua, seharusnya ini pertanda aman bagi semua fans Morrissey di Indonesia. Viva la' Moz!

Thursday, July 7, 2016

JUJURKAN SAJAK YANG MENYALAK

"Aku akan menjadi karang di lautan mereka. Aku akan menjadi kanker dalam tubuh mereka."

Itu adalah potongan lirik dari lagu "Ilmu Politik" milik trio minimalis Efek Rumah Kaca dengan barisan sajak maksimalis seraya sebuah ancaman bagi para politisi korup di negeri ini.

Secara tidak berdasar saya selalu mengasumsikan bahwa fungsi dari sebuah lagu selain untuk peneman sebuah momen juga sebagai alat pengancam berbagai momen yang tidak relevan.

Lagu sendiri adalah suatu kesatuan dari musik dan lirik, dan lagu yang bagus adalah lagu yang dapat menyatukan kedua ramuan tersebut menjadi padu. Amat jarang saya temui lagu bagus yang diciptakan orang sekaliber maestro musik sekalipun yang hanya bermodalkan musik yang bagus atau sebaliknya.

Namun bagi saya, secara pribadi saya menganggap bahwa lagu yang bagus terlahir dari lirik yang "cerdas", tidak peduli ia dibalut dengan musik seperti pop, rock, jazz bahkan dangdut sekalipun. Hanya lirik yang menjadi poin penilaian utama saya dan musik hanya menjadi pengantar yang bersifat sekunder, atau dengan sombong saya menyebutnya bonus.

Karena logikanya, musik yang tidak enak --menurut persepsi-- sekalipun jika kita dengar secara intens dan berkelanjutan akan menjadi irama yang nikmat dan secara tidak sadar kita lantunkan. Seperti contohnya, banyak musik populer yang diperdengarkan radio akan menjadi besahabat dengan telinga karena intensitasnya, bukan karena kualitasnya.

Berlanjut membahas tentang sajak dalam sebuah lagu, banyak band atau musisi independen yang justru berani melakukan eksplorasi pada divisi liriknya agar pesan dalam lagunya dengan telanjang dapat sampai kepada para pendengarnya. Jelas itu terjadi atas dasar tidak berlakunya batasan yang biasanya di berikan sebuah koorporasi label rekaman jika mereka bernaung di bawahnya.

Namun pada kasus sekarang ini, justru muncul banyak band baru yang mengusung lirik cerdas yang terasa di buat - buat. Dengan bahasa yang terlampau tinggi dan mengikuti ejaan kamus besar bahasa Indonesia, mereka merangkai sebuah sajak intelek yang justru terkesan memaksakan. dan pada akhirnya membuat lagu yang mereka ciptakan menjadi tidak jujur.

Bukankah musik akan terdengar lebih "mengancam" jika sajak yang mereka tuliskan itu jujur dan relevan dengan keadaan yang hendak mereka kritisi. Tidak harus menggunakan bahasa baku yang malah membuat orang menjadi sulit mengerti agar terlihat keren dan cerdas. Kesederhanaan dan kejujuran bahasa dalam sebuah lirik lagu justru yang membuat pesan dari lagu yang mereka bawakan akan tepat tujuan.

Sajak dalam lagu adalah pesan yang seharusnya berefek jangka panjang atau tidak ayal menjadi pegangan hidup dari pendengarnya. Dan tidak sedikit orang yang mengubah pola pikir hidupnya karena imbas dari lirik sebuah lagu yang jujur dan cerdas. Bukan cerdas yang di buat atau di cari demi sebuah pengakuan pendengar.

Wednesday, June 22, 2016

KECIKITTY PROFILE


Perkenalkan, kami Kecikitty sebuah kolektif rock n' roll asal Jakarta Selatan yang terbentuk tahun 2011, beranggotakan lima pria amburadul yang sangat terinfiltrasi oleh musik asal Amerika dimana Elvis Presley berhasil meniduri banyak wanita cantik setelah berhasil mempopulerkannya di tahun 1950.

Di gawangi oleh Ridwan, Arga, Dimas, Opank dan Aliyan, Kecikitty baru saja merilis sebuah album penuh berjudul "Hedonisme" yang berisikan sebelas lagu atraktif, liar, romantis, dan jenaka. Setelah sebelumnya Kecikitty juga telah menelurkan sebuah album mini berisikan 6 lagu dengan tajuk "Supir Bercinta Kenek Menderita" pada tahun 2012 silam.

Berbagai macam panggung Jakarta telah berhasil Kecikitty lacuri sedari 2011 hingga kini, bermacam bar dan tempat keriaan malam juga tak luput menjadi target kekacauan saat kami beraksi.
Dansa-dansi hingga lupa diri...!

Dengan ini kami persembahkan Kecikitty kepada kalian semua. Kami yakin musik yang kami mainkan jauh lebih adiktif dari semua psikotropi yang pernah kalian konsumsi!

Sikat John !!!

Saturday, June 18, 2016

MUSIK SEBAGAI IDENTITAS PERSONAL

Apa yang kamu "kenakan" adalah representasi dari musik apa yang kamu dengarkan.

Tak melulu berbicara tentang tulisan pada tshirt kamu atau simbol serta font dari logo band yang kalian gandrungi, itu akan menjadi terlalu gamblang dan mendasar jika saya bahas disini, karena dengan sangat mudah kita dapat mengetahui musik atau --bahkan secara spesifik-- band apa yang kamu suka jika yang tertera pada tshirt kamu adalah tulisan "Black Sabbath" semisal.

Jika kamu menyukai musik country, tak mungkin juga kamu setiap hari berpenampilan layaknya koboi lengkap dengan sepatu janggo dan membawa kuda sebagai penanda kalau kamu penggemar musik tersebut, dan lagipula musik dengan genre seperti itu jarang atau bahkan mustahil membuat merchandise untuk para penggemarnya. Tidak semasif genre rock atau metal yang atributnya dengan sangat mudah kita jumpai.

Yang ingin dibahas disini adalah attitude yang secara sadar di izinkan menginfiltrasi kepribadian seorang pendengar musik tertentu dalam kesehariannya, dalam tindak-tanduknya bersosialisasi, cara mereka bersikap dan lain sebagainya. Semua yang kamu dengarkan akan tercermin secara jelas atau mungkin samar karena secara sadar ataupun tidak musik yang kamu dengarkan telah mengarahkan kamu kesana.

Banyak anggapan bahwa pendengar musik pop akan bersikap lembut dan perasa dalam kesehariannya, dan muncul juga anggapan lain bahwa pendengar musik metal atau punk akan cenderung agresif dalam sikapnya. Mungkin akan menjadi benar jika pengklasifikasian itu dilakukan dengan survey yang tidak menyeluruh dan menggunakan dasar ilmu yang kurang tepat, atau dengan kata lain menggunakan insting sok' tahu semata.

Semua yang kita telan dalam anggapan masyarakat saat ini adalah stigma yang justru memberatkan salah satu pihak, mereka yang menempelkan cap ini-itu kepada kita yang menjalankan. Sebagai contoh saya tak lantas menjadi orang yang arogan atau tempramen hanya karena selalu mendengarkan musik kencang dan berdistorsi, dan mereka penyuka musik islami juga tak lantas menjadi orang yang paling suci dan menjadi kambing hitam islam garis keras karena apa yang mereka dengarkan.

Yang seharusnya menjadi penjelas atas apa yang akan melekat pada musik apa yang kita dengarkan adalah semua hal tersebut kita ubah menjadi sesuatu yang positif, dengan harapan menjadi citra baru atas imej pada suatu musik tertentu. Dan hasil akhirnya akan dapat kita implementasikan kepada kepribadian kita kepada khalayak banyak.

Sebagai contoh saya mencoba menjabarkan citra positif yang akan melekat pada orang dengan kegemaran musik tertentu, seperti penggemar musik metal atau rock yang cenderung keras bisa menjadi orang yang straight to the point, kritis dan terbuka atas kritikan. Penggemar musik jazz merefleksikan orang yang tenang dan elegan dalam pembawaannya setra penikmat musik punk akan menjadi pribadi yang jujur dan kritis terhadap permasalahan yang ada di masyarakat serta dapat dengan mudah bersosialisasi di lingkungan dan masih banyak lagi.

Dengan kata lain kamulah yang akan bertanggung jawab atas identitas yang kamu bawa dari musik yang kamu gemari, jangan pernah membuatnya menjadi stigma yang kembali melemahkan kepribadianmu. Dan untuk kamu yang belum berani memberi warna pada identitasmu selayaknya musik yang kamu dengarkan, cobalah mulai sekarang dan ubah pandangan kamu bahwa musik bukan sekedar alat sekunder yang hanya didengar lalu terlupa, tanpa adanya bekas positif yang tertinggal.

Friday, May 20, 2016

MUSIK : SARANA REKREASI ATAU KIAT EKSPLORASI DIRI



Siapa yang tidak pernah mendengar musik? 

Sebuah pertanyaan yang hanya memiliki jawaban tunggal sebenarnya, secara gamblang saya dapat menjawab hanya saudara kita yang difable (Tunarungu) sejak dilahirkan yang tidak pernah mendengar musik. Musik adalah hasil dari harmonsasi beberapa alat yang mengeluarkan bunyi yang dapat dinikmati oleh telinga manusia.

Jika kita berbicara tentang musik, tidak dapat dielakan hubungannya dengan hiburan yang juga berbicara tentang kepuasan pribadi saat menikmatinya. Ini adalah suatu bentuk plesiran yang keberadaannya sangat penting di era hectic seperti sekarang ini. Semua media massa sudah barang tentu menjadikan musik sebagai kontennya (Media cetak: Info tentang musik) guna memberikan hiburan kepada para pemirsanya.

Yang ingin saya tanyakan adalah, Apakah hanya berhenti sampai disitu kegunaan musik untuk anda? Sebuah alat penghilang stres ditengah rutinitas, alat menghabiskan waktu dikala menunggu sesuatu yang tak kunjung tiba, alat pengingat momentum suka ataupun duka dalam perjalanan hidup anda. Tidak salah memang jika itu adalah jawaban yang akan anda utarakan. That's your choice!

Namun jika "alat" itu anda gunakan setiap hari dalam sebagian besar hidup anda, bukankah itu akan melatih indera pendengaran anda dalam mendengarkan, memahami, menghayati bahkan mengaplikasikan makna dari setiap sajaknya dalam kehidupan anda. Itu berarti anda telah memiliki kemampuan dari sesuatu yang secara tidak sadar anda pelajari secara intens dan berulang. Bukankah anda merugi atas waktu yang terbuang untuk mendengarkan musik jika tidak menjadikannya sesuatu kelebihan anda?

Dan bukankah para pencipta dari musik yang anda dengarkan secara berkala itu awalnya juga seorang pendengar musik pasif? mereka mengubah sudut pandang dari yang awalnya pendengar menjadi "didengar". Itu semua karena awalnya mereka berani dan berhasil mengeksplorasi diri mereka menjadi sesuatu yang lebih. Hal tersebut sangat mungkin juga menjadi jalan hidup anda jika anda memiliki minat yang lebih terhadap bidang musik.

Banyak ranah yang dapat anda pilah dalam bidang musik dan sangat mungkin anda jadikan karir. Selain menjadi pencipta atau pemain musik, anda juga dapat menjadi manajer seorang artis musik, penggagas event musik, peramu rekam sebuah album musik, pengamat musik profesional atau bahkan jurnalis musik dan masih banyak lagi. Semua pekerjaan tersebut juga pastinya berlandaskan atas kegemaran akan musik, dan itu semua sah-sah saja.

Tentunya semua akan kembali kepada anda, akankah musik yang telah mengisi kehidupan anda hanya menjadi sarana rekreasi yang tidak menghasilkan apa-apa atau malah bisa anda jadikan cara bereksplorasi (karya) atas dasar pengalaman kehidupan yang dapat dinikmati oleh banyak orang dan justru menjadikan sumber penghasilan anda dimasa yang akan datang.

“If I were not a physicist, I would probably be a musician. I often think in music. I live my daydreams in music. I see my life in terms of music.”  ― Albert Einstein

Tuesday, May 17, 2016

RED HOT CHILI PEPPERS : LIMA TAHUN UNTUK ALBUM KE SEBELAS BERTAJUK "THE GATEWAY"

Berjarak lima tahun dari album terakhir mereka yang berjudul Stadium Arcadium yang dirilis pada tahun 2006 silam, akhirnya band rock/ funk asal California, Amerika Serikat ini kembali menunjukan eksistensi mereka dengan merilis album studio penuh, dan direncanakan akan bisa dinikmati oleh para penggemar mereka pada pertengahan tahun ini.

Seperti yang dilansir situs resmi mereka, bahwasanya album yang diberi judul "The Gateway" akan dirilis pada 17 Juni 2016 mendatang dan masih dibawah label Warner Bros Record seperti lima albumnya terdahulu yaitu Blood Sugar Sex Magik, One Hot Minute, Californication dan By The Way.

Dalam album ini Chad Smith cs juga menerapkan sistem pre-order untuk pembelian album mutakhir mereka di sejumlah situs online seperti iTunes, Amazon, Google Play dan tentunya pada situs resmi label rekaman mereka yaitu Warner Bros Records, Album bundling ini akan berisikan 2xLP 180g vinyl yang bernomor dan terbatas hanya 5.000 copy di seluruh dunia, 24 "x 24" litograf dengan tambahan album artwork, kaset pita berisikan single andalan mereka dan juga akses untuk mengunduh album "The Gateway" secara digital.

Namun RHCP via kanal video gratisnya belum lama ini membocorkan satu lagu berjudul "Dark Necessities" yang di daulat sebagai lagu andalan mereka dalam album ini. Nuansa yang lebih "tenang" akan terdengar dalam lagu ini dan semoga tidak akan menjadi gambaran album ini secara keseluruhan, karena karakter permainan bass Michael "Flea" Balzary masih tetap kentara dengan ciri khas slapping atraktif dan notasi yang seakan tidak mau diam dalam lagu ini.

Band asal California, AS ini mempersembahkan 13 lagu dalam album ini, di produseri oleh Danger Mouse dan di mixing oleh Nigel Godrich serta desain artwork oleh Kevin Peterson. Dengan cover album berwarna dan berisikan seorang anak kecil yang berjalan berdampingan dengan beruang dan racoon serta seekor burung gagak yang bertengger pada tiang jalan, seolah sedang menuju sebuah gerbang perubahan baik itu dari nuansa musik serta attitude personil RHCP yang memang sudah identik dengan keliaran.

"The Gateway" sendiri adalah album studio pertama bagi gitaris Josh Klinghoffer semenjak bergabung dengan RHCP menggantikan posisi John Frusciante yang resmi keluar dari band pada tahun 2009 dikarenakan fokus pada promo album solonya yang berjudul The Empyrean (2009), dan otomatis ia menjadi gitaris ke 8 dari band yang dibentuk sejak tahun 1983 tersebut. Setelah sebelumnya nama - nama seperti Dave Navaro dan Jesse Tobias (yang sekarang mengisi gitar di band Morrissey) pernah mengisi divisi gitar pada band yang pernah menjual 15 ribu copy pada album Californication (1999) ini.

Dan dalam rangkaian show menuju album ke 10 mereka di Weenie Roast 2016, kabar mengejutkan justru datang dari sang vokalis Anthony Kiedis yang mengalami sakit pada perutnya dan harus menghentikan penampilannya pada 14 May lalu. Menurut rilisan pers via fanpage RHCP, sang frontman menderita komplikasi flu usus dan mengharuskannya dirawat inap karena penyakitnya tersebut serta berimbas pada penundaan jadwal show selanjutnya di iHeart Radio pada 17 May kemarin.


Sumber : https://www.wikipedia.org/
                  http://redhotchilipeppers.com/
                  https://www.youtube.com/

Monday, May 16, 2016

MENGGEBU - DEBU

Kehendak yang diburu, pada akhirnya hanya menjadi semu.
Semu dan tak menyisakan sesuatu untuk di padu, terburu nafsu!
Berharap pada kenyataan yang nyata serupa bayang.
Aku tak sepenuhnya menggenggam apa yang mereka sebut menang.

Salahkah jika ambisi dengan ekspektasi ini yang terlampau tinggi?
Atau ini hanya kekeliruan atas pilihan untuk dinanti?
Dihadapkannya penyesalan akan deru diluar tempomu.
Dan masih percaya ini cara menuju angkuhmu atas kalahmu.

Aku yang terlalu menggebu.
Kini tinggal debu...

Saturday, May 7, 2016

FANATISME : GENGSI FANBASE YANG DI SALAH ARTIKAN


Record Store Day Jakarta 2016 memang telah berlalu, berlangsung pada tanggal 16 Maret dan bertempat di Pasar Santa, masih segar juga di ingatan kita sejumlah band yang ikut serta dalam meramaikan gelaran tahunan internasional tersebut dengan merilis album terbarunya dalam format kaset dan cd.

Seperti yang di lansir RSD Indonesia lewat akun instagramnya, terdapat 43 band yang ikut melempar rilisan terbarunya dalam RSD tahun ini. Seringai adalah salah satu dari sekian banyak band yang ada dalam daftar rilis tersebut, memang bukan materi baru yang mereka rilis melainkan reissue album terdahulu mereka yang berjudul "High Octane Rock".

Ya, seperti kita ketahui bahwa Seringai adalah band rock/ metal ibukota yang memiliki fanbase cukup besar di skena musik independen Indonesia, tampil sebagai pembuka konser Metallica pada 2013 silam menjadikan band ini memang pantas untuk dipuja. Dalam urusan rilisan album tidak perlu diragukan, band ini selalu berhasil menjual habis rilisannya, terhitung sejak album pertama mereka. Begitu juga dalam hal merchandise dan tiket konser, band ini selalu berhasil mendatangkan animo besar pemujanya untuk mengapresiasi segala bentuk karya yang telah mereka buat.

Dan jika berbicara tentang reissue album "High Octane Rock" yang belum lama ini mereka rilis, ada cerita yang cukup janggal yang ditangkap oleh penulis secara pribadi. Hal pertama adalah mengapa kaset itu dirilis dalam jumlah yang terbatas yaitu 300 copy, dimana terdapat penggolongan reguler dan special cover. Untuk reguler cover dijual dengan harga 40 ribu rupiah dengan jumlah 200 pcs, sedangkan special cover dijual dengan harga 50 ribu rupiah dan hanya dengan jumlah 100 pcs. Kedua adalah dampak lanjut dari label limited tersebut memberikan dampak positif kepada oknum fans guna mendulang untung sebesar-besarnya dari penjualan kembali via situs-situs penjualan online. 

Jawaban dari kejanggalan yang pertama sudah agak terjawab, setelah mencari pembenaran atas kesakithatian penulis karena tidak kebagian rilisan ini. Menurut seorang kawan yang juga seorang jurnalis majalah musik, memang sudah menjadi tradisi di Record Store Day mancanegara untuk merilis album sebuah band dalam jumlah yang terbatas, hal tersebut dilakukan guna memberikan penghargaan untuk para pengunjung yang datang dan meramaikan event tahunan tersebut. Terlepas dari kesanggupan publisher atas besar atau kecilnya biaya produksi dalam rilisan tersebut, itu adalah tradisi yang mesti dilakukan dan balik kembali lagi pada akhirnya fans adalah fans, yang tidak bisa berbuat apa-apa jika memang tidak kebagian merchandise dari band idolanya.

Bergeser pada kejanggalan kedua, oknum yang mengambil celah keuntungan atas kefanatikan orang lain inilah yang justru menjadi momok menyebalkan. entah untuk kepuasan pribadikah atau memang mereka hanya berorinetasi kepada uang atau daya jual kembali. Cukup banyak bukti yang dapat diperoleh jika anda mencoba membuka situs jual beli dan mencari rilisan tersebut, ada yang berani membandrol dengan harga 3 sampai 4 kali lipat. Sungguh memuakan memang jika nominal tersebut berani kita setujui demi gengsi ingin memiliki semata. Namun tak hanya berhenti sampai disitu, ada pula benturan kecil antara idealisme penuh kefanatikan dengan berapapun nominal kaset yang mereka suguhkan.

Sumber : http://olx.co.id/

Memang proses bisnis oknum tersebut sudah diluar kapasitas si band ataupun publishernya, berapapun besarnya harga kaset limited  tersebut dijual tidak akan memberikan keuntungan pada band atau managementnya. Ini murni tentang kefanatikan yang disalahartikan oleh segelintir pemuja yang haus akan nominal. Ini mungkin perpaduan antara penyalahartian kefanatikan oleh budaya konsumtif yang memang tumbuh subur di kalangan anak muda dalam pencarian serta pembuktian jati diri. Tidak ada yang bisa disalahkan atas kondisi tersebut, dan pada akhirnya semua kembali lagi pada seberapa besar kadar kefanatikan anda pada band yang telah berhasil menginfiltrasi anda dan dompet anda. Atau hanya gengsi yang mengambil kendali !?

Thursday, April 21, 2016

EPILOG

Ini bukan soal cerita yang tak lagi indah untuk kubaca
Ini karena retina yang payah lantaran lamban aku mengeja

Aksaramu kabur, Puan!
Pejam kubutuhkan

Wednesday, March 16, 2016

PRESS RELEASE: KECIKITTY UNIT ROCK N' ROLL METROPOLITAN MERILIS ALBUM DEBUT BERTAJUK "HEDONISME"

Artwork. Kecikitty
Ada yang tahu angkutan umum?

Haha... Kami tidak sedang melakukan survey atau sesi jajak pendapat tentang baik buruknya kendaraan publik yang dominan berkontribusi terhadap polusi kota Jakarta tersebut. Itu hanyalah jargon yang biasa kami keluarkan tiap kali berada diatas panggung untuk memulai lagu Supir Bercinta, kenek Menderita yang kami ciptakan tahun 2011. 

Kami adalah Kecikitty sebuah super group asal Selatan Metropolitan yang beranggotakan lima pemuda tampan dan mapan yang mengaku titisan dari dewa rock n' roll era Athena berkuasa, bahkan jauh sebelum Elvis Presley berhasil memakai popok di bokongnya.

Kecikitty adalah Opank (Drum), Ridwan (Keyboard), Arga (Gitar), Nggek (Bass) dan Aliyanisme (Vokal/Gitar). Kami baru saja menciptakan sebuah formula baru pada ayat suci rock n' roll di musik yang kami mainkan. Cepat, keras, liar, romantis, dan jenaka adalah alasan mengapa kalian harus pasang telinga serta bersiap untuk berdansa, dan jika kalian belum pernah mendengar nama band sekeren kami sebelumnya, berarti tuhan memberkati anda!

Tepat pada tanggal 12 Maret yang lalu, kami secara resmi merilis debut album pertama yang kami beri judul HEDONISME, cukup lama memang penantian kami untuk mengkatalogkan semua musik kami untuk menjadi sebuah album. Terhitung membutuhkan proses 5 tahun untuk dapat merampungkannya sejak Kecikitty ini terbentuk. 

Hedonisme sendiri memulai proses rekamannya pada tahun 2014 dan selesai diakhir tahun 2015 lalu. Direkam di 2 studio berbeda yaitu studio UBV Jakarta untuk pengambilan suara gitar, bass, keyboard dan vokal serta Arrow Studio untuk pengambilan suara drum. Kami dibantu oleh Abdul Hakim, manajer kami yang juga sekaligus sebagai audio engineer dalam seluruh proses rekaman yang kami lakukan, beliau jugalah yang mengatur dan mengakomodir segala kebutuhan kami dalam jadwal dan aksi panggung. 

Seperti kebanyakan band yang baru merintis, kami mengalami banyak kendala diberbagai lini dalam proses pengerjaan Hedonisme, persoalan klasik yang mendera adalah dimana equipment yang kami gunakan sangat minimalis sehingga tak jarang kami harus meminjam peralatan milik sahabat untuk digunakan dalam proses pengerjaan album ini. Juga terdapat kendala finansial yang melanda dikarenakan faktor penghasilan dari masing-masing personil yang belum mumpuni pada saat itu. 

Proses pengumpulan materi yang sangat melelahkan pun tak luput menjadi hilang rintang, kami melakukannya bersamaan dengan kesibukan kantoran masing-masing dari kami, cukup menguras tenaga karena disela-sela proses rekaman dan rutinitas pekerjaan kami juga harus menjalani cukup banyak jadwal manggung dalam rangka meluaskan pendengar atas mini album kami terdahulu. Tetapi semua itu tidak melemahkan semangat kami dalam menyelesaikan album ini hingga dapat didengar oleh kawan-kawan semua. 

Bermuatan 11 lagu, Hedonisme kami suguhkan dengan cita rasa rock n' roll jalanan bermandikan cinta yang nakal di tengah asap polutan kendaraan bermotor kota Jakarta yang haus akan hiburan. Hedonisme adalah refleksi kami akan rock n' roll ibu kota dimana tempat kami tinggal dan besar. 

Kecikitty tak melulu dikontribusi oleh lima pria brengsek dalam proses kreatif album Hedonismenya, kami juga dibantu oleh Fadillah Hasyyati, seorang sahabat yang cantik dan eksotis untuk kolabolator vokal tamu pada lagu Gadis Bergoyang Rock N' Roll, finally Janis Joplin live again, dude! 

Untuk desain artworknya sendiri semua dikerjakan oleh vokalis kami Aliyanisme, ia cukup jeli mengambil tema kaum hedon kota besar dimana semua orang butuh hiburan dan keriaan dalam rutinitasnya, ia sangat berhasil memproyeksikan semua yang ada didalam album ini kedalam visualisasi cover yang didominasi warna cokelat keemasan tersebut. 

Dalam perilisannya kami sangat dibantu oleh UBV Jakarta sebagai media partner, tempat dimana kami dipertemukan, berlatih serta berkarya sehingga kami dapat sampai pada titik dimana kami berada sekarang, yaitu menghasilkan album penuh. Seluruh lagu dalam album ini juga sudah bisa kalian nikmati di UBV Radio Streaming. Kreatifitas tanpa batas! 

Semoga dengan dirilisnya Hedonisme dapat diterima oleh kawan-kawan semua. Karya jujur dari kumpulan bajingan metropolitan yang menjadikan rock n' roll sebagai wadah eksplorasi musik dan hidupnya. Ini bukan tentang pencapaian, kami anggap ini sebuah permulaan dari proses bermusik kami sebagai individu maupun kolektif sebuah band. 

Dengan ini kami persembahkan HEDONISME kepada kalian. Kami yakin ini jauh lebih adiktif dari semua psikotropi yang pernah kalian konsumsi! 

Sikat Jon !!!