Friday, May 20, 2016

MUSIK : SARANA REKREASI ATAU KIAT EKSPLORASI DIRI



Siapa yang tidak pernah mendengar musik? 

Sebuah pertanyaan yang hanya memiliki jawaban tunggal sebenarnya, secara gamblang saya dapat menjawab hanya saudara kita yang difable (Tunarungu) sejak dilahirkan yang tidak pernah mendengar musik. Musik adalah hasil dari harmonsasi beberapa alat yang mengeluarkan bunyi yang dapat dinikmati oleh telinga manusia.

Jika kita berbicara tentang musik, tidak dapat dielakan hubungannya dengan hiburan yang juga berbicara tentang kepuasan pribadi saat menikmatinya. Ini adalah suatu bentuk plesiran yang keberadaannya sangat penting di era hectic seperti sekarang ini. Semua media massa sudah barang tentu menjadikan musik sebagai kontennya (Media cetak: Info tentang musik) guna memberikan hiburan kepada para pemirsanya.

Yang ingin saya tanyakan adalah, Apakah hanya berhenti sampai disitu kegunaan musik untuk anda? Sebuah alat penghilang stres ditengah rutinitas, alat menghabiskan waktu dikala menunggu sesuatu yang tak kunjung tiba, alat pengingat momentum suka ataupun duka dalam perjalanan hidup anda. Tidak salah memang jika itu adalah jawaban yang akan anda utarakan. That's your choice!

Namun jika "alat" itu anda gunakan setiap hari dalam sebagian besar hidup anda, bukankah itu akan melatih indera pendengaran anda dalam mendengarkan, memahami, menghayati bahkan mengaplikasikan makna dari setiap sajaknya dalam kehidupan anda. Itu berarti anda telah memiliki kemampuan dari sesuatu yang secara tidak sadar anda pelajari secara intens dan berulang. Bukankah anda merugi atas waktu yang terbuang untuk mendengarkan musik jika tidak menjadikannya sesuatu kelebihan anda?

Dan bukankah para pencipta dari musik yang anda dengarkan secara berkala itu awalnya juga seorang pendengar musik pasif? mereka mengubah sudut pandang dari yang awalnya pendengar menjadi "didengar". Itu semua karena awalnya mereka berani dan berhasil mengeksplorasi diri mereka menjadi sesuatu yang lebih. Hal tersebut sangat mungkin juga menjadi jalan hidup anda jika anda memiliki minat yang lebih terhadap bidang musik.

Banyak ranah yang dapat anda pilah dalam bidang musik dan sangat mungkin anda jadikan karir. Selain menjadi pencipta atau pemain musik, anda juga dapat menjadi manajer seorang artis musik, penggagas event musik, peramu rekam sebuah album musik, pengamat musik profesional atau bahkan jurnalis musik dan masih banyak lagi. Semua pekerjaan tersebut juga pastinya berlandaskan atas kegemaran akan musik, dan itu semua sah-sah saja.

Tentunya semua akan kembali kepada anda, akankah musik yang telah mengisi kehidupan anda hanya menjadi sarana rekreasi yang tidak menghasilkan apa-apa atau malah bisa anda jadikan cara bereksplorasi (karya) atas dasar pengalaman kehidupan yang dapat dinikmati oleh banyak orang dan justru menjadikan sumber penghasilan anda dimasa yang akan datang.

“If I were not a physicist, I would probably be a musician. I often think in music. I live my daydreams in music. I see my life in terms of music.”  ― Albert Einstein

Tuesday, May 17, 2016

RED HOT CHILI PEPPERS : LIMA TAHUN UNTUK ALBUM KE SEBELAS BERTAJUK "THE GATEWAY"

Berjarak lima tahun dari album terakhir mereka yang berjudul Stadium Arcadium yang dirilis pada tahun 2006 silam, akhirnya band rock/ funk asal California, Amerika Serikat ini kembali menunjukan eksistensi mereka dengan merilis album studio penuh, dan direncanakan akan bisa dinikmati oleh para penggemar mereka pada pertengahan tahun ini.

Seperti yang dilansir situs resmi mereka, bahwasanya album yang diberi judul "The Gateway" akan dirilis pada 17 Juni 2016 mendatang dan masih dibawah label Warner Bros Record seperti lima albumnya terdahulu yaitu Blood Sugar Sex Magik, One Hot Minute, Californication dan By The Way.

Dalam album ini Chad Smith cs juga menerapkan sistem pre-order untuk pembelian album mutakhir mereka di sejumlah situs online seperti iTunes, Amazon, Google Play dan tentunya pada situs resmi label rekaman mereka yaitu Warner Bros Records, Album bundling ini akan berisikan 2xLP 180g vinyl yang bernomor dan terbatas hanya 5.000 copy di seluruh dunia, 24 "x 24" litograf dengan tambahan album artwork, kaset pita berisikan single andalan mereka dan juga akses untuk mengunduh album "The Gateway" secara digital.

Namun RHCP via kanal video gratisnya belum lama ini membocorkan satu lagu berjudul "Dark Necessities" yang di daulat sebagai lagu andalan mereka dalam album ini. Nuansa yang lebih "tenang" akan terdengar dalam lagu ini dan semoga tidak akan menjadi gambaran album ini secara keseluruhan, karena karakter permainan bass Michael "Flea" Balzary masih tetap kentara dengan ciri khas slapping atraktif dan notasi yang seakan tidak mau diam dalam lagu ini.

Band asal California, AS ini mempersembahkan 13 lagu dalam album ini, di produseri oleh Danger Mouse dan di mixing oleh Nigel Godrich serta desain artwork oleh Kevin Peterson. Dengan cover album berwarna dan berisikan seorang anak kecil yang berjalan berdampingan dengan beruang dan racoon serta seekor burung gagak yang bertengger pada tiang jalan, seolah sedang menuju sebuah gerbang perubahan baik itu dari nuansa musik serta attitude personil RHCP yang memang sudah identik dengan keliaran.

"The Gateway" sendiri adalah album studio pertama bagi gitaris Josh Klinghoffer semenjak bergabung dengan RHCP menggantikan posisi John Frusciante yang resmi keluar dari band pada tahun 2009 dikarenakan fokus pada promo album solonya yang berjudul The Empyrean (2009), dan otomatis ia menjadi gitaris ke 8 dari band yang dibentuk sejak tahun 1983 tersebut. Setelah sebelumnya nama - nama seperti Dave Navaro dan Jesse Tobias (yang sekarang mengisi gitar di band Morrissey) pernah mengisi divisi gitar pada band yang pernah menjual 15 ribu copy pada album Californication (1999) ini.

Dan dalam rangkaian show menuju album ke 10 mereka di Weenie Roast 2016, kabar mengejutkan justru datang dari sang vokalis Anthony Kiedis yang mengalami sakit pada perutnya dan harus menghentikan penampilannya pada 14 May lalu. Menurut rilisan pers via fanpage RHCP, sang frontman menderita komplikasi flu usus dan mengharuskannya dirawat inap karena penyakitnya tersebut serta berimbas pada penundaan jadwal show selanjutnya di iHeart Radio pada 17 May kemarin.


Sumber : https://www.wikipedia.org/
                  http://redhotchilipeppers.com/
                  https://www.youtube.com/

Monday, May 16, 2016

MENGGEBU - DEBU

Kehendak yang diburu, pada akhirnya hanya menjadi semu.
Semu dan tak menyisakan sesuatu untuk di padu, terburu nafsu!
Berharap pada kenyataan yang nyata serupa bayang.
Aku tak sepenuhnya menggenggam apa yang mereka sebut menang.

Salahkah jika ambisi dengan ekspektasi ini yang terlampau tinggi?
Atau ini hanya kekeliruan atas pilihan untuk dinanti?
Dihadapkannya penyesalan akan deru diluar tempomu.
Dan masih percaya ini cara menuju angkuhmu atas kalahmu.

Aku yang terlalu menggebu.
Kini tinggal debu...

Saturday, May 7, 2016

FANATISME : GENGSI FANBASE YANG DI SALAH ARTIKAN


Record Store Day Jakarta 2016 memang telah berlalu, berlangsung pada tanggal 16 Maret dan bertempat di Pasar Santa, masih segar juga di ingatan kita sejumlah band yang ikut serta dalam meramaikan gelaran tahunan internasional tersebut dengan merilis album terbarunya dalam format kaset dan cd.

Seperti yang di lansir RSD Indonesia lewat akun instagramnya, terdapat 43 band yang ikut melempar rilisan terbarunya dalam RSD tahun ini. Seringai adalah salah satu dari sekian banyak band yang ada dalam daftar rilis tersebut, memang bukan materi baru yang mereka rilis melainkan reissue album terdahulu mereka yang berjudul "High Octane Rock".

Ya, seperti kita ketahui bahwa Seringai adalah band rock/ metal ibukota yang memiliki fanbase cukup besar di skena musik independen Indonesia, tampil sebagai pembuka konser Metallica pada 2013 silam menjadikan band ini memang pantas untuk dipuja. Dalam urusan rilisan album tidak perlu diragukan, band ini selalu berhasil menjual habis rilisannya, terhitung sejak album pertama mereka. Begitu juga dalam hal merchandise dan tiket konser, band ini selalu berhasil mendatangkan animo besar pemujanya untuk mengapresiasi segala bentuk karya yang telah mereka buat.

Dan jika berbicara tentang reissue album "High Octane Rock" yang belum lama ini mereka rilis, ada cerita yang cukup janggal yang ditangkap oleh penulis secara pribadi. Hal pertama adalah mengapa kaset itu dirilis dalam jumlah yang terbatas yaitu 300 copy, dimana terdapat penggolongan reguler dan special cover. Untuk reguler cover dijual dengan harga 40 ribu rupiah dengan jumlah 200 pcs, sedangkan special cover dijual dengan harga 50 ribu rupiah dan hanya dengan jumlah 100 pcs. Kedua adalah dampak lanjut dari label limited tersebut memberikan dampak positif kepada oknum fans guna mendulang untung sebesar-besarnya dari penjualan kembali via situs-situs penjualan online. 

Jawaban dari kejanggalan yang pertama sudah agak terjawab, setelah mencari pembenaran atas kesakithatian penulis karena tidak kebagian rilisan ini. Menurut seorang kawan yang juga seorang jurnalis majalah musik, memang sudah menjadi tradisi di Record Store Day mancanegara untuk merilis album sebuah band dalam jumlah yang terbatas, hal tersebut dilakukan guna memberikan penghargaan untuk para pengunjung yang datang dan meramaikan event tahunan tersebut. Terlepas dari kesanggupan publisher atas besar atau kecilnya biaya produksi dalam rilisan tersebut, itu adalah tradisi yang mesti dilakukan dan balik kembali lagi pada akhirnya fans adalah fans, yang tidak bisa berbuat apa-apa jika memang tidak kebagian merchandise dari band idolanya.

Bergeser pada kejanggalan kedua, oknum yang mengambil celah keuntungan atas kefanatikan orang lain inilah yang justru menjadi momok menyebalkan. entah untuk kepuasan pribadikah atau memang mereka hanya berorinetasi kepada uang atau daya jual kembali. Cukup banyak bukti yang dapat diperoleh jika anda mencoba membuka situs jual beli dan mencari rilisan tersebut, ada yang berani membandrol dengan harga 3 sampai 4 kali lipat. Sungguh memuakan memang jika nominal tersebut berani kita setujui demi gengsi ingin memiliki semata. Namun tak hanya berhenti sampai disitu, ada pula benturan kecil antara idealisme penuh kefanatikan dengan berapapun nominal kaset yang mereka suguhkan.

Sumber : http://olx.co.id/

Memang proses bisnis oknum tersebut sudah diluar kapasitas si band ataupun publishernya, berapapun besarnya harga kaset limited  tersebut dijual tidak akan memberikan keuntungan pada band atau managementnya. Ini murni tentang kefanatikan yang disalahartikan oleh segelintir pemuja yang haus akan nominal. Ini mungkin perpaduan antara penyalahartian kefanatikan oleh budaya konsumtif yang memang tumbuh subur di kalangan anak muda dalam pencarian serta pembuktian jati diri. Tidak ada yang bisa disalahkan atas kondisi tersebut, dan pada akhirnya semua kembali lagi pada seberapa besar kadar kefanatikan anda pada band yang telah berhasil menginfiltrasi anda dan dompet anda. Atau hanya gengsi yang mengambil kendali !?