Sunday, August 21, 2016

MILITIALLICA

Masih tergambar sangat jelas di ingatan saya tentang kemegahan panggung mereka di Stadion Utama Gelora Bung Karno malam itu. Tentang betapa rapihnya tata panggung dan dentuman mega audio yang mereka ciptakan pada malam itu, serta lagu Hit The Lights yang menjadi nomer pembuka dan di sambut dengan teriakan histeris oleh sekitar 60 ribu penonton yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno pada saat itu. 

Kabar yang deras mulai membanjiri timeline media sosial tentang berita kedatangan James Hetfield cs ke Indonesia untuk kedua kalinya. Jelas ini merupakan berita yang sangat ditunggu oleh para metalhead nusantara, lantaran Metallica adalah salah satu band metal terbesar yang ada di dunia saat ini, serta faktor lain yang juga tak kalah mendukung adalah ajang nostalgia bagi para penggemar yang sempat menyaksikan mereka 20 tahun yang lalu.


Jelas untuk saya penampilan Metallica di tahun 1993 hanyalah sebuah dongeng yang tak habis di agung-agungkan oleh ayah saya serta banyak musisi yang dengan bangga bercerita via artikel sebuah majalah atau YouTube tentang kerusuhan yang di akibatkannya. Cerita tentang Stadion Lebak Bulus yang mencekam pada saat itu dan cerita tentang audio yang di hasilkan pada saat itu terdengar hingga wilayah Bintaro, tempat ibu dan ayah saya tinggal dahulu.


Ya, saya tidak tahu pasti tentang kebenaran cerita tersebut, karena memang saya tidak mengalaminya sendiri. Namun itu menjadi sebuah dongeng terkeren yang di ceritakan ayah saya pada saat saya menginjak bangku sekolah menengah pertama dan selalu terngiang serta dengan bangga kembali saya ceritakan kepada banyak teman saya, seolah saya menyaksikan sendiri konser Metallica pada saat itu. Haha..


Tempat pertunjukan serta harga tiket masuk sudah resmi di publish oleh pihak promotor pada saat itu. Blackrock Entertainment lah yang bertanggung jawab akan lawatan Metallica ke Indonesia pada tahun 2013. Sebuah Event Organizer yang terbilang baru untuk kancah pertunjukan musik pada saat itu, dan jelas hal tersebut memicu keraguan dari ribuan penggemar yang hendak menonton band pujaan mereka. Timeline di twitter sontak penuh dengan berbagai kabar miring yang disertai opini-opini tidak jelas dari para penggemar fanatiknya. Namun hal tersebut langsung di respon oleh pihak Blackrock Ent. dengan mengadakan konferensi pers di kantor Rollingstone Indonesia. Dalam wawancara yang bertempat di Rollingstone Cafe di bilangan Ampera Jakarta Selatan pihak Blackrock Ent. membenarkan kabar yang sudah viral di media sosial tersebut dengan memamaparkan kesiapan mereka untuk konser tersebut.


Jelas hal ini bagai mimpi yang menjadi nyata bagi saya pribadi, karena menjadi sangat tidak terbayangkan jika saya dapat menyaksikan penampilan kedua mereka di Indonesia dan bukan tidak mungkin akan menjadi kedatangan terakhir mereka ke negara kita mengingat kondisi umur dan kesehatan mereka. Spekulasi tersebutlah yang mendorong saya dan mungkin banyak para metalhead Indonesia untuk menonton konsernya.


Berita yang tersebar sudah dapat dibilang meyakinkan, lalu yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah soal harga tiket yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa seperti saya pada saat itu. Di bandrol dengan harga mulai dari 400 ribu untuk tribun, 680 ribu untuk festival (standing) dan jutaan rupiah untuk kelas vip. Maka yang saya pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya untuk menabung dan mencari uang tambahan agar dapat membeli tiket tersebut. Di sisi lain, dalam lini media sosial khususnya twitter, hashtag gerakan #demimetallica mulai ramai dan menjadi cara alternatif untuk mendapatkan uang dengan cara menjual segala macam benda dengan harga yang relatif murah. Gerakan ini bermunculan di berbagai daerah dan sempat menjadi treding topic di twitter karena massalnya.


Melihat fenomena tersebut, saya lantas berfikir hal serupa guna mendapatkan uang dengan cepat. Saya yang pada saat itu memiliki kendaraan berupa Honda S90 dan saya modifikasi bergaya Cafe Racer, coba saya jual demi membeli tiket dengan harga 680 ribu tersebut. Namun tidak secepat yang saya pikirkan hingga akhirnya motor saya itu laku terjual. Karena memang benda kesayangan saya itu baru saja selesai saya restorasi hingga tampak cantik, jadi saya dengan percaya diri menjualnya dengan harga yang cukup tinggi. Sempat terbesit dalam benak saya, kalau memang motor saya itu tidak laku terjual karena harganya yang terlalu mahal, saya akan merelakan untuk tidak menonton Metallica pada saat itu. Kalau memang saya memang berjodoh dengan konser tersebut saya yakin akan dapat membeli tiketnya selain dengan cara menjual motor saya. Saya tidak terlalu ambisi akan hal tersebut.


Namun kabar yang sangat mengejutkan tiba-tiba muncul beberapa hari sebelum konser tersebut digelar. Diberitakan konser Metallica di Jakarta tersebut akan dibuka oleh band ibu kota, dan yang terpilih untuk gelaran besar tersebut adalah unit rock/ metal asal Selatan Jakarta, Seringai. Sontak saya terkejut dan amat sangat kegirangan karena sedari tahun 2005 saya sangat mengagumi band Arian13 cs. tersebut. Sunguh mengejutkan bila band yang saya kagumi sejak sekolah menengah dapat menjadi band pembuka yang menjadi dongeng semasa saya kecil. Ini tidak boleh dilewatkan...!!!


Kondisi pada saat itu motor yang saya hendak jual belum juga laku, langsung saja dengan semangat membara untuk dapat menyaksikan Seringai berbagi panggung dengan Metallica, saya turunkan harga jualnya. Awalnya saya membuka harga untuk motor tua saya tersebut adalah 10 juta, lantas langsung saya hubungi orang-orang yang sempat menawar harga motor tersebut via pesan singkat. Dan jadilah motor saya laku terjual dengan harga 5,5 juta saja. Ya saya melakukan hal tersebut karena Seringai lah yang menjadi band pembuka untuk Metallica, jika bukan Seringai mungkin akan beda ceritanya.



 

Tiket sudah di tangan ketika waktu menunjukan pukul 14.00 wib pada hari Minggu 25 Agustus 2013. Lekas saya bergegas menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno karena telah ditunggu oleh seorang teman yang sudah terlebih dahulu menukarkan tiket di Seven Eleven Senayan. Di area Senayan sudah sangat banyak orang-orang dengan berpakaian serba hitam bertulisakan Metallica di bajunya. Bis antar kota ber-plat nomor daerah sudah berjejer parkir disekitaran Senayan dengan bendera bertuliskan Metallica from Solo, Metallica from Surabaya, Metallica from Medan dan masih banyak lagi asal daerah para calon penonton konser tersebut.


Dengan keriaan yang tergambar jelas pada wajah mereka, sambil bernyanyi lagu-lagu dari Metallica mereka terasa sudah tidak sabar untuk menunggu open gate yang di jadwalkan pada pukul 17.00 wib. Semua orang bersuka cita menantikan dentuman drum Lars Ulrich, bass Trujilo, raungan gitar Kirk Hammet dan teriakan Jame Hetfield. Banyak awak media yang juga tidak mau melewatkan kesempatan untuk meliput konser terbesar dan termegah yang dihadiri oleh ribuan orang tersebut.


Waktu yang dinantikan akhirnya tiba, saat gerbang mulai dibuka serentak ribuan orang mencoba masuk guna mendapatkan posisi paling terdepan dalam konser tersebut. Pemeriksaan tiket, keamanan dan botol-botol minuman berjalan cukup rapih dan ter-organisir dan tidak memakan waktu yang lama, sekitar menunggu setengah jam akhirnya saya dapat masuk kedalam lapangan yang rumputnya sudah berwarna putih (karena menggunakan pengaman rumput). Lantas terlihatlah sebuah panggung super megah dengan jejeran audio system di kanan dan kirinya serta dua buah layar LED yang juga di kanan, kiri dan belakang panggung. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa tatkala saya membayangkan mega metal band asal Amerika seperti Metallica dan Seringai yang akan berada di pangung megah itu beberapa saat lagi.


Konser dibuka dengan penampilan oleh kolektif rock oktan tinggi, Seringai. Mereka tidak sendiri dalam keriaan panggung besar tersebut, lagu pertama di buka oleh Seringai bersama penyanyi pop yang sedang bersinar namanya di jagat musik Indonesia. Raisa di daulat untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di depan ribuan penonton berkostum serba hitam tersebut, suara yang indah dan paras yang cantik akhirnya berhasil membuat koor paduan suara bergema di Stadion Utama, momen ersebut memukau para metalhead dan sukses membuat bulu roma bergidik dengan lagu dan lirik nasionalisnya.


Tak makan waktu lama Seringai langsung saja menghentak dengan lagu Program Party Seringai yang di sambut oleh gemuruh penonton yang semakin menggila dan di lanjut dengan lagu Mengadili Persepsi "Bermain Tuhan", Dilarang di Bandung feat Eben Burgerkill dan mereka tak lupa mengcover lagu dari unit rock n roll ala Lemmy Kilmister cs. yang berjudul Ace Of Spades. Memang penampilan Seringai pada malam itu diluar ekspektasi saya sebagai orang yang menunggu mereka di panggung itu, pasalnya audio yang mereka keluarkan sangat kurang baik untuk ukuran panggung sebesar itu. Namun apa daya, karena pada dasarnya setiap band pembuka pasti diberi ketentuan yang di tetapkan oleh pihak band utama yang mempunyai hajat, termasuk soal seberapa besar daya audio yang boleh di keluarkan. Namun itu tidak menjadi soal bagi saya pribadi, karena dengan dapat menyaksikan mereka berbagi panggung dengan Metallica adala suatu kebanggaan tersendiri yang tidak akan pernah saya lupakan.


Tak lama berselang setelah Seringai menghajar panggung, suara lagu pengantar yang bejudul Ecstasy Of Gold berkumandang sontak membuat semua penonton berteriak histeris, itu merupakan tanda bahwa sesaat lagi Metallica akan menyapa penggemarnya di malam itu. Tak lupa LED yang ada di kanan kiri dan belakang panggung memvisualisasikan gambar dari video The Good, The Bad and The Ugly yang sudah sangat melekat pada setiap penampilan Metallica di panggungnya. Semua penonton sangat hikmat namun di sisi lain juga histeris saat melakukan koor yang tak kalah membuat merinding.


Lalu satu persatu personil Metallica pun muncul keatas pangung dari balik layar LED berukuran besar yang ada di belakang set drum Lars Ulrich dan Hit The Lights pun langsung memacu awalan pertunjukan super sempurna tersebut. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang saya dengarkan pada saat Seringai membuka konser tersebut, pasalnya audio yang di keluarkan pada saat Metallica diatas panggung amat sangat spektakuler dan sangat menyentak namun tidak membuat sakit telinga para penonton. Apa  yang terdengar di depan panggung dengan yang ada di rekaman mereka baik itu melali format digital ataupun analog, semuanya sangat serupa. Benar-benar manajemen audio yang sangat hebat yang membuat Metallica pantas menjadi sebesar itu.


Total ada 15 lagu ditambah 3 lagu encore yang dimainkan Metallica pada malam itu, seperti Master of Puppets, Fuel, Ride The Lightning, Fade To Black, The Four Horsemen, Cyanide, Welcome Home (Sanitarium), Sad But True, Orion, One, For Whom The Bell Tolls, Blackened, Nothing Else Matters, Enter Sandman dan encore seperti Creeping Death, Fight Fire With Fire dan Seek And Destroy sebagai lagu penutup. Semua lagu yang mereka bawakan di atas panggung sangat memukau dan sangat mirip seperti hasil rekamannya. Ditambah lagi yang amat saya tidak bisa lupakan adalah saat sekumpulan orang di barisan depan melemparkan sebuah bendera merah putih keatas panggung dan bertuliskan Metallica Solo - Indonesia. Dan semua penonton di dalam Stadion tersebut berteriak dengan penuh kebanggaan, begitupula dengan saya.


Dan satu hal lagi yang menjadi perhatian saya atas kondisi diatas panggung Metallica, yaitu keadaan panggung yang rapih dan sama sekali tanpa unit amplifier yang biasanya sering kita jumpai di konser band dalam maupun luar negri yang lain. Diatas panggung hanya diisi oleh sejumlah speaker monitor dan beberapa mikrophone sang vokalis, tidak ada yang lain. Hal tersebut membuat panggung terlihat besar dan rapih serta membuat para personil Metallica bebas berlarian kesana-kemari guna memeriahkan aksi panggung.


Sungguh konser yang sangat amat berkesan untuk saya secara pribadi, dari mulai perjuangan mencari uang untuk membeli tiket, proses menjual motor kesayangan yang sudah lama sama restorasi, membulatkan tekad untuk menonton hanya karena Seringai yang didaulat sebagai band pembuka Metallica sampai menyaksikan betapa kualitas band metal kelas dunia didepan kedua mata saya sendiri yang nyaris tanpa celah. Dan itu semua menjadi sebuah kenangan yang semoga dapat terulang kembali di masa yang akan datang, paling tidak jika hal tersebut tidak akan terulang saya dapat menjadikannya sebuah dongeng yang menarik bagi anak dan cucu saya kelak saya tua nanti.

Friday, August 12, 2016

SOSIOPOLITIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PAGELARAN MUSIK

Sebuah notifikasi media sosial tiba-tiba masuk ke telepon genggam saya sore itu, beberapa orang teman rupanya telah menandai akun instagram saya dalam sebuah berita dari majalah musik tentang rencana kedatangan musisi mancanegara ke Indonesia untuk kali kedua. Musisi asal Inggris mantan frontman The Smiths dikabarkan akan menggelar konser di Jakarta pada bulan Oktober mendatang, setelah sebelumnya pada tahun 2012 ia pernah menyapa penggemarnya di Tennis Indoor Senayan.

Namun tanpa sadar, fikiran saya langsung berlari kepada kasus kemanusiaan yang sedang ramai menjadi perdebatan. tentang hukuman mati pengedar narkoba Fredi Budiman di Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan. Dimana Indonesia sedang menjadi sorotan dunia karena dinilai melanggar hak asasi kemanuasiaan. Lalu pertanyaan aneh mulai hadir di kepala saya, apakah kasus kemanusiaan tersebut akan membuat Morrissey membatalkan rencana konsernya di Jakarta? mengingat Morrissey adalah sosok yang cukup lantang mengangkat isu sosial dalam karir bermusiknya.

Morrissey sangat kencang menyuarakan anti kemewahan ala keluarga kerajaan Inggris dengan pembuktiannya dalam beberapa konsernya di berbagai negara. Moz juga lantang menyuarakan hidup sehat dengan beberapa wawancaranya ia menegaskan bahwa ia adalah Vegan (sebutan untuk kaum Vegetarian), namun disisi lain ia juga cukup vokal menyuarakan anti pembataian terhadap satwa seperti dalam lagu yang ia buat berjudul Bullfighter Dies dan Meat Is Murder. Hal tersebut menegaskan bahwasanya sosok Morrissey adalah orang yang peduli terhadap situasi sosial dan politik dan maka kiranya ini menjadi ketakutan konyol, yang semakin dipikirkan justru semakin masuk akal.

Dalam konteks artis, kita membicarakan musisi internasional dan rencana lawatannya ke Indonesia. Dan dalam hal ini pula, kita pasti sudah mengetahui bahwa para musisi tersebut memiliki sederet persyaratan yang wajib di penuhi oleh pihak promotor, atau dikenal dengan sebutan riders. Berbagai macam persyaratan yang di minta oleh artis mancanegara, dari hal yang dapat di kabulkan hingga yang mustahil untuk di wujudkan, dan ujung-ujungnya membuat sang artis menjadi enggan untuk menggelar konsernya di negara tersebut.

Seperti halnya U2, Bono dkk adalah salah satu musisi yang dianggap sulit untuk di boyong ke suatu negara, pasalnya U2 beserta manajemen nya menerapkan persyaratan yang cukup menyulitkan bagi para promotor untuk setiap tour dunianya. Kabarnya Bono dan kawan-kawan hanya akan menggelar konser disuatu negara, jika negara tersebut sudah memenuhi hak asasi manusia, terutama perekonomian warganya. Logikanya, untuk apa ada konser megah namun hanya semakin memperjelas kesenjangan sosial warga negaranya.

Lalu ada band metal legendaris yang beberapa tahun lalu baru saja melakukan konser di Gelora Bung Karno, Metallica. dengan proses yang panjang James Hetfiled cs dapat di bujuk untuk menggelar konser keduanya di Indonesia. Namun dibalik itu semua, nyatanya Metallica dalam lawatannya tahun 2013 lalu membawa suatu pergerakan kesehatan dalam semua tournya, termasuk di Jakarta. Semua promosi produk rokok tidak diperkenankan pada saat itu, ya alasannya karena mereka dalam konsernya membawa pesan anti rokok. Dan masih banyak lagi musisi mancanegara yang memberlakukan hal tersebut guna dapat melakukan perubahan untuk dunia dalam koridor mereka. 

Lalu bagaimana dengan Morrissey? akankah Indonesia dengan segala pelanggaran hak asasinya menjadi bahan pertimbangannya untuk tampil kembali di Jakarta? Namun jika menelisik bahwa ini adalah kunjungannya yang kedua, seharusnya ini pertanda aman bagi semua fans Morrissey di Indonesia. Viva la' Moz!