Sebuah notifikasi media sosial tiba-tiba masuk ke telepon genggam saya sore itu, beberapa orang teman rupanya telah menandai akun instagram saya dalam sebuah berita dari majalah musik tentang rencana kedatangan musisi mancanegara ke Indonesia untuk kali kedua. Musisi asal Inggris mantan frontman The Smiths dikabarkan akan menggelar konser di Jakarta pada bulan Oktober mendatang, setelah sebelumnya pada tahun 2012 ia pernah menyapa penggemarnya di Tennis Indoor Senayan.
Namun tanpa sadar, fikiran saya langsung berlari kepada kasus kemanusiaan yang sedang ramai menjadi perdebatan. tentang hukuman mati pengedar narkoba Fredi Budiman di Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan. Dimana Indonesia sedang menjadi sorotan dunia karena dinilai melanggar hak asasi kemanuasiaan. Lalu pertanyaan aneh mulai hadir di kepala saya, apakah kasus kemanusiaan tersebut akan membuat Morrissey membatalkan rencana konsernya di Jakarta? mengingat Morrissey adalah sosok yang cukup lantang mengangkat isu sosial dalam karir bermusiknya.
Morrissey sangat kencang menyuarakan anti kemewahan ala keluarga kerajaan Inggris dengan pembuktiannya dalam beberapa konsernya di berbagai negara. Moz juga lantang menyuarakan hidup sehat dengan beberapa wawancaranya ia menegaskan bahwa ia adalah Vegan (sebutan untuk kaum Vegetarian), namun disisi lain ia juga cukup vokal menyuarakan anti pembataian terhadap satwa seperti dalam lagu yang ia buat berjudul Bullfighter Dies dan Meat Is Murder. Hal tersebut menegaskan bahwasanya sosok Morrissey adalah orang yang peduli terhadap situasi sosial dan politik dan maka kiranya ini menjadi ketakutan konyol, yang semakin dipikirkan justru semakin masuk akal.
Dalam konteks artis, kita membicarakan musisi internasional dan rencana lawatannya ke Indonesia. Dan dalam hal ini pula, kita pasti sudah mengetahui bahwa para musisi tersebut memiliki sederet persyaratan yang wajib di penuhi oleh pihak promotor, atau dikenal dengan sebutan riders. Berbagai macam persyaratan yang di minta oleh artis mancanegara, dari hal yang dapat di kabulkan hingga yang mustahil untuk di wujudkan, dan ujung-ujungnya membuat sang artis menjadi enggan untuk menggelar konsernya di negara tersebut.
Seperti halnya U2, Bono dkk adalah salah satu musisi yang dianggap sulit untuk di boyong ke suatu negara, pasalnya U2 beserta manajemen nya menerapkan persyaratan yang cukup menyulitkan bagi para promotor untuk setiap tour dunianya. Kabarnya Bono dan kawan-kawan hanya akan menggelar konser disuatu negara, jika negara tersebut sudah memenuhi hak asasi manusia, terutama perekonomian warganya. Logikanya, untuk apa ada konser megah namun hanya semakin memperjelas kesenjangan sosial warga negaranya.
Lalu ada band metal legendaris yang beberapa tahun lalu baru saja melakukan konser di Gelora Bung Karno, Metallica. dengan proses yang panjang James Hetfiled cs dapat di bujuk untuk menggelar konser keduanya di Indonesia. Namun dibalik itu semua, nyatanya Metallica dalam lawatannya tahun 2013 lalu membawa suatu pergerakan kesehatan dalam semua tournya, termasuk di Jakarta. Semua promosi produk rokok tidak diperkenankan pada saat itu, ya alasannya karena mereka dalam konsernya membawa pesan anti rokok. Dan masih banyak lagi musisi mancanegara yang memberlakukan hal tersebut guna dapat melakukan perubahan untuk dunia dalam koridor mereka.
Lalu bagaimana dengan Morrissey? akankah Indonesia dengan segala pelanggaran hak asasinya menjadi bahan pertimbangannya untuk tampil kembali di Jakarta? Namun jika menelisik bahwa ini adalah kunjungannya yang kedua, seharusnya ini pertanda aman bagi semua fans Morrissey di Indonesia. Viva la' Moz!

No comments:
Post a Comment