Kita sebagai anak muda yang masa kecilnya selalu dijejali dengan berbagai kartun kepahlawanan asal jepang, dimana bertarung adalah satu-satunya jalan untuk menumpas kejahatan. Pada saat kanak-kanak pula, sosok pahlawan yang kita amini adalah seorang tokoh yang mengenakan topeng dan seragam yang selalu siap sedia menolong dimanapun dan kapanpun ia berada. Di usia sekolah, kita kembali ditawarkan dengan varian pahlawan nyata dari sosok lokal yang berjuang memerangi penjajah dimasa kemerdekaan. Kita diwajibkan menghafal setiap nama yang ada di poster ruang kelas sekolah pada saat pelajaran sejarah berlangsung. Dari sana wawasan kita dibuka bahwasanya tidak selamanya pahlawan akan memenangkan pertempuran dan hidup bahagia diakhir cerita seperti di film kartun minggu pagi yang dulu kita tonton.
Namun apakah susah menjadi pahlawan hari ini?.
Kita memang tidak sedang dalam bahaya serangan monster-monster menyeramkan yang siap menghancurkan dunia beserta isinya, kita juga tidak sedang dalam invasi militer bangsa lain dimana mereka menjajah negara kita seperti 71 tahun silam. Namun bukan berarti kita harus melakukan hal serupa dan mempertaruhkan nyawa kita untuk bisa menjadi seorang pahlawan, di zaman ini kita dihadapkan dengan penjajahan yang jauh lebih kejam dan tidak berperikemanusiaan yang justru dilakukan oleh oknum dari bangsa kita sendiri, yaitu korupsi. Itu adalah kejahatan yang wajib kita lawan sebagai anak muda guna menciptakan kemerdekaan yang hakiki di negeri ini. Oleh karena itu, masih sangat terbuka kesempatan bagi kita anak muda untuk menjadi pahlawan, khususnya untuk berperang melawan korupsi di Indonesia.
Memang hingga saat ini negara belum pernah meng-anugerahkan penghargaan bagi mereka yang mati-matian memerangi korupsi di negeri ini, apalagi membuatkan patung monumental guna mengenang jasa pegiat anti korupsi, maka jangan pula mengharapkan pemerintah akan memberikan tunjangan sebesar Rp. 50jt pertahun untuk ahli waris dari pahlawan anti korupsi seperti yang mereka berikan kepada pahlawan konvensional. Meskipun tanpa monumen dan penghargaan bukan berarti para pejuang anti korupsi tersebut lantas akan dilupakan jasa-jasanya, justru nama mereka akan selalu harum dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia yang selalu memimpikan kesejahteraan merata di republik ini.
Jika masih banyak anak muda yang berpikiran bahwa bila ingin menjadi seorang pahlawan itu harus siap gugur dalam medan perang dan bersimbah darah, hidup sengsara serta wajib mengangkat senjata. Lekas ubah pola pikir yang seperti itu kawan, memang saat ini yang kita perangi adalah musuh yang paling jahat, namun musuh terjahat ini justru dapat kita kalahkan hanya dengan tindakan paling sederhana, yaitu gelengkan kepala dan katakan tidak pada korupsi. Sekilas memang terdengar basi, tapi hanya itu cara paling ampuh untuk dapat memberantas korupsi, kolusi serta nepotisme.
Hanya dengan berkata Tidak! pada tawaran menggiurkan tersebut kita telah memutus mata rantai praktek-praktek korup yang lainnya, dan jika itu dilakukan secara masif oleh seluruh anak muda yang notabene akan menjadi pemimpin suatu hari nanti, maka yakinilah Indonesia akan menjadi negara yang sejahtera dan maju. Sangat mudah bukan? lantas tunggu apalagi? Ini adalah satu-satunya cara yang paling mudah untuk kita sebagai anak muda untuk menjadi pahlawan bagi tanah kelahiran kita. Spread this action and become the next heroes!
No comments:
Post a Comment