Record Store Day Jakarta 2016 memang telah berlalu, berlangsung pada tanggal 16 Maret dan bertempat di Pasar Santa, masih segar juga di ingatan kita sejumlah band yang ikut serta dalam meramaikan gelaran tahunan internasional tersebut dengan merilis album terbarunya dalam format kaset dan cd.
Seperti yang di lansir RSD Indonesia lewat akun instagramnya, terdapat 43 band yang ikut melempar rilisan terbarunya dalam RSD tahun ini. Seringai adalah salah satu dari sekian banyak band yang ada dalam daftar rilis tersebut, memang bukan materi baru yang mereka rilis melainkan reissue album terdahulu mereka yang berjudul "High Octane Rock".
Ya, seperti kita ketahui bahwa Seringai adalah band rock/ metal ibukota yang memiliki fanbase cukup besar di skena musik independen Indonesia, tampil sebagai pembuka konser Metallica pada 2013 silam menjadikan band ini memang pantas untuk dipuja. Dalam urusan rilisan album tidak perlu diragukan, band ini selalu berhasil menjual habis rilisannya, terhitung sejak album pertama mereka. Begitu juga dalam hal merchandise dan tiket konser, band ini selalu berhasil mendatangkan animo besar pemujanya untuk mengapresiasi segala bentuk karya yang telah mereka buat.
Dan jika berbicara tentang reissue album "High Octane Rock" yang belum lama ini mereka rilis, ada cerita yang cukup janggal yang ditangkap oleh penulis secara pribadi. Hal pertama adalah mengapa kaset itu dirilis dalam jumlah yang terbatas yaitu 300 copy, dimana terdapat penggolongan reguler dan special cover. Untuk reguler cover dijual dengan harga 40 ribu rupiah dengan jumlah 200 pcs, sedangkan special cover dijual dengan harga 50 ribu rupiah dan hanya dengan jumlah 100 pcs. Kedua adalah dampak lanjut dari label limited tersebut memberikan dampak positif kepada oknum fans guna mendulang untung sebesar-besarnya dari penjualan kembali via situs-situs penjualan online.
Jawaban dari kejanggalan yang pertama sudah agak terjawab, setelah mencari pembenaran atas kesakithatian penulis karena tidak kebagian rilisan ini. Menurut seorang kawan yang juga seorang jurnalis majalah musik, memang sudah menjadi tradisi di Record Store Day mancanegara untuk merilis album sebuah band dalam jumlah yang terbatas, hal tersebut dilakukan guna memberikan penghargaan untuk para pengunjung yang datang dan meramaikan event tahunan tersebut. Terlepas dari kesanggupan publisher atas besar atau kecilnya biaya produksi dalam rilisan tersebut, itu adalah tradisi yang mesti dilakukan dan balik kembali lagi pada akhirnya fans adalah fans, yang tidak bisa berbuat apa-apa jika memang tidak kebagian merchandise dari band idolanya.
Bergeser pada kejanggalan kedua, oknum yang mengambil celah keuntungan atas kefanatikan orang lain inilah yang justru menjadi momok menyebalkan. entah untuk kepuasan pribadikah atau memang mereka hanya berorinetasi kepada uang atau daya jual kembali. Cukup banyak bukti yang dapat diperoleh jika anda mencoba membuka situs jual beli dan mencari rilisan tersebut, ada yang berani membandrol dengan harga 3 sampai 4 kali lipat. Sungguh memuakan memang jika nominal tersebut berani kita setujui demi gengsi ingin memiliki semata. Namun tak hanya berhenti sampai disitu, ada pula benturan kecil antara idealisme penuh kefanatikan dengan berapapun nominal kaset yang mereka suguhkan.
Sumber : http://olx.co.id/
|
Memang proses bisnis oknum tersebut sudah diluar kapasitas si band ataupun publishernya, berapapun besarnya harga kaset limited tersebut dijual tidak akan memberikan keuntungan pada band atau managementnya. Ini murni tentang kefanatikan yang disalahartikan oleh segelintir pemuja yang haus akan nominal. Ini mungkin perpaduan antara penyalahartian kefanatikan oleh budaya konsumtif yang memang tumbuh subur di kalangan anak muda dalam pencarian serta pembuktian jati diri. Tidak ada yang bisa disalahkan atas kondisi tersebut, dan pada akhirnya semua kembali lagi pada seberapa besar kadar kefanatikan anda pada band yang telah berhasil menginfiltrasi anda dan dompet anda. Atau hanya gengsi yang mengambil kendali !?


No comments:
Post a Comment