Wednesday, December 23, 2015

PETAKA HAK CIPTA DI ERA INFORMATIKA

   Sumber: DJKI
Fenomena yang sangat tragis saya temui ketika suatu sore sedang memantau timeline di media sosial, dimana seorang mantan vokalis sebuah band independen memposting gambar yang memuat lagu nya telah diperjual-belikan secara legal di sebuah situs penyedia layanan download berbayar yang sangat identik dengan sosok Steve Jobs.

Lagu tersebut memang dapat di unduh secara legal, tetapi yang menjadi permasalahan adalah kreator justru tidak pernah merasa menjual lagu tersebut dalam format digital. Dalam postingan berikutnya, sang vokalis menemukan fakta yang lebih mengejutkan bahwa karya - karyanya tersebut di pasarkan juga oleh 3 situs yang serupa.

Hal ini menimbulkan tanda tanya yang besar, seperti yang saya ketahui bahwa sistem penjualan lagu dengan format online dilakukan melalui perantara atau yang biasa disebut dengan aggregator. Dimana aggregator musik adalah fasilitator bagi musisi untuk menjual musik mereka secara online. Pada kasus ini lagu di jual tanpa melalui otorisasi sang pemegang hak cipta, sehingga hasil penjualan dari lagu tersebut tidak akan pernah sampai ke tangan sang pemilik karya. Jelas ini menjadi sebuah petaka bagi seorang musisi, karyanya terjual justru memperkaya oknum pembajak.

Di waktu yang hampir sama, lagi - lagi saya mendapatkan info memprihatinkan lainnya dan kali ini dari sebuah band pop indie asal Jakarta yang baru saja meliris albumnya pada 18/12 lalu via iTunes. Dalam waktu 3x24 jam dari rilisnya album tersebut, ternyata lagu - lagunya sudah berseluncur bebas di kanal tontonan gratis dengan interface merah yang dominan.

Berbeda dengan kasus sebelumnya dimana sang kreator tidak pernah mendaftarkan karyanya untuk dijual secara online. Namun pada kasus ini sang artis memang dengan sadar menyerahkan albumnya untuk dijual secara online via iTunes, tetapi muncul pihak ke empat yang dengan sengaja membeli rilisan digitalnya namun menyebarluaskannya tanpa izin guna mendapat keuntungan pribadi berupa likers, visitors, viewers dll.

Seperti yang kita tahu bahwasanya akun media sosial dapat menjadi modal untuk orang mencari uang, dengan menjual advertising contohnya. Banyak perusahaan yang mulai mengubah model promosinya kedalam bentuk advertising di situs tontonan gratis, dari situlah kemudian muncul gagasan para oknum untuk menarik viewers dengan cara mengunggah karya milik orang lain dengan akunnya.

Yang menjadi pertanyaan apakah situs penyedia layanan legal download ataupun tontonan gratis tersebut tidak menerapkan sistem verifikasi hak cipta atas semua karya yang di publikasikannya? Lucu jika jawabannya tidak.

Media informasi yang seharusnya menopang publikasi dari suatu karya, justru menjadi pisau bermata terbalik yang tak segan - segan membuat para musisi atau seniman menangis darah karena telah mempercayakannya. Dari sudut pandang manapun pembajak adalah pencuri hak atas kekayaan intelektual, maka jangan biarkan meraka kaya raya atas karya kita.

Sunday, December 20, 2015

THROUGH THE BOUNDARIES, MENEMBUS KREATIF YANG TAK BERBATAS

   Foto. Through The Boundaries
Simple, easy listening, your daily love-life adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan duo pop asal Jakarta Selatan ini atas karya - karya mereka. Di gawangi oleh Ridwan Slamet dan Desrizal Yudistira, Through The Boundaries yang baru di bentuk pada tahun 2015 ini telah merilis single pertama yang berjudul All This Time, dibantu oleh Fadhilah Hasyyati dalam lini vokal, membuat lagu yang di dasarkan atas cerita pribadi salah satu personilnya ini semakin menimbulkan nuansa romantis pada penyampaian liriknya.

Tidak berbeda dengan group pop masif lainya, dua lelaki multi-talenta ini juga mengusung tema pertemanan dan percintaan dalam setiap lagu yang mereka ciptakan. Di balut dengan komposisi musik yang tidak berlebih membuat lagu mereka terdengar jujur dan easy listening. "Mungkin karena basic gua (ical) adalah punk. Jadi setiap bikin lagu pasti hasilnya agak up beat dan setelah di konversikan oleh Ridwan ke slow version, voila...! maka jadilah lagu itu" tukas Desrizal Yudistira atau yang lebih akrab di sapa Ical ini.

Dengan konsep kolaborasi vokal yang berbeda pada setiap lagunya, dikabarkan lagu kedua mereka yang masih dalam tahap sentuhan akhir yang berjudul You & Me akan menggandeng Muffidah Amalia, seorang vokalis wanita yang juga bersuara indah seperti halnya kolabolator pada single pertama mereka. Dan tak hanya berhenti sampai disitu, rencananya Duo Pop yang lahir dari unit kegiatan mahasiswa tempat mereka kuliah ini akan menyelesaikan E.P mereka dalam waktu dekat seperti yang diungkapkan Ridwan saat diwawancarai via surat elektronik "Target paling deket itu Extended Play atau E.P, mudah2an segera rampung! Aamiin".



Interviewers : Dinna Khairina

Sunday, November 22, 2015

REKAM JEJAK

Kerinduan akan sahabat ini kian lama kian hebat.
Entah ini fase dimana tanda akhir kehidupan atau memang usia terprogram untuk mengulang.
Momentum untuk menyinggahi tapak demi tapak bab kedewasaan.
Merekalah para sahabat yang mengajarkan kehidupan.

Kita masih saling mengingat canda, tawa dan momok menyebalkan.
Kita saling bertanya kabar, tempat tinggal dan masih lajang?
Lalu  kita tertawa seakan berada di tempat bahkan kelas yang sama seperti 11 tahun silam.
Sungguh membahagiakan.

Kita memang belajar di tempat belajar yang berseragam.
Belajar cara berteman dan menjalin persahabatan.
Untuk merah, tiga biru, tiga abu dan untuk sahabat sekarang.
Untuk kalian saya merekam jejak.

Thursday, October 29, 2015

BERTAHAN DAN MENYERANG

Ini bukan seperti yang diharapkan pertemanan
Mereka coba unjuk pencapaian, Membanggakan
Mereka coba cari pengakuan, Keberhasilan

Ini bukan seperti yang dibayangkan persahabatan
Mereka coba tarik simpati, Berhati
Mereka coba bantu dan berseru, Pamrih

Ini yang diharapkan persaudaraan
Aku diam agar kau terdengar, Bangga
Aku bicara agar kau ambil makna, Belajar

Tak perlu harus teriak agar terdengar
Tak perlu harus cerita agar dibayangkan
Dan cukup untuk bertahan saat kau terus menyerang

September 30 2015

Monday, October 19, 2015

CASSETTE STORE DAY 2015


Analog Kills The Digital Stars! adalah kalimat pertama yang muncul di otak saya ketika masuk kedalam sebuah cafe atraktif di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Di dalam sudah ramai penampilan dari band Sajama Cut memeriahkan halaman belakang yang terbuka dari cafe tempat event ini di selenggarakan.

Event rilisan fisik yang ide awalnya digagas di Amerika ini sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 2008 di negara asalnya. Dan di Indonesia sendiri baru merayakan hari kaset pita internasional pada tahun 2013 dan itupun hanya di Jakarta, namun pada Cassette Store Day 2015 ini terdapat beberapa kota besar di Indonesia yang secara serentak mengadakan event tahunan ini diantaranya Yogyakarta, Bandung, Malang, Tarakan, Solo, Surabaya dan Cirebon.

Dan tepat Sabtu 17 Oktober 2015 kemarin baru saja di selanggarakan event #CSD2015 chapter Jakarta yang bertempat di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang. Pada Cassette Store Day tahun ini tercatat 25 tenant baik record store ( toko ) maupun online store ikut ambil bagian untuk berjualan kaset - kaset langka yang mereka miliki.

Pada hari itu band - band indie kenamaan baik asal ibu kota maupun kota besar lainnya ikut serta merilis album ataupun single dalam format kaset pita, diantaranya adalah Superglad yang merilis EP dengan judul Bersulang. Duo/ group folk asal kota Surabaya, Silampukau pun tak ketinggalan memeriahkan event kebangkitan rilisan fisik ini dengan merilis album penuh pertamanya yang bertajuk Kota, Dosa & Kenangan dalam format pita gulung tersebut.


Selain Superglad dan Silampukau masih banyak lagi band - band indie yang juga ikut meramaikan Cassette Store Day 2015 dengan merilis albumnya dalam format kaset pita, antara lain :

Polyester Embassy - Tragicomedy

Polyester Embassy - Fake/ Faker

That's Rockafeller - Panca Dasa

Bronzebois - Rabies Rock

Pijar - Selatan ( EP )

Beetleflux - Trailee ( EP )

Shirati Darma - 7

Flaming Leeds 02 - Flaming Leeds 02

Jodi In The Morning Glory Parade - B - Dide/ Remix

The Upstair - Magnet ( Cover Jimi )

The Upstair - Magnet ( Cover Kubil )

Morfem - Jungkir Balik

Twisterella - Undercontrol

Bungabel - Self - Title

It's Different Class - Paska Hipnotis

One Man Karaoke - Friends United

Napolleon - Blanktape: A

Peonies - Wish/ Lost ( Single )

Polka Wars ( Single )

Sommerhaar - Farscape Et Dives

The Monophones - A Voyage To The Velvet Sun ( Reissue )


Di padati kurang lebih 500 pengunjung, event #CSD2015 hari itu berlangsung sukses ditambah dengan kabar mengejutkan yang di lansir oleh pihak Majemuk Records selaku distributor kaset pita album Jungkir Balik, Magnet!Magnet! serta Kota, Dosa & Kenangan lewat akun Instagram nya bahwa kaset dari band Morfem, The Upstairs dan Silampukau habis terjual di seluruh kota di Indonesia yang turut mengadakan #CSD2015.




Dalam acara yang di selenggarakan mulai pukul 11.00 sampai 21.00 itu juga ada sederet band penampil seperti Peonies, Zzuf, Bedchamber, Sajama Cut, Lightcraft, Gizpel, That's Rockafeller, Superglad, Polka Wars dan DJ Kaset Pemudasinarmas yang turut serta membuat suasana semakin meriah.


Suasana kemeriahan #CSD2015 chapter Jakarta.

Saturday, October 10, 2015

ROCK PESTA LIAR

Akhir minggu sudah tiba
Dimana kita menggila?
Rossi dan Bulungan gelar pesta
Destinasi jatuh pada cafe di Ampera


Pakai tshirt idolamu
Bandana jangan tertinggal
Genggam botol alkoholmu
Tak sadar pasti akan lebih menyenangkan


Rock pesta liar ia kumandangkan!
Rock pesta liar keras dan senang - senang!


Gitar pertama terdengar
Tanda menari lebih liar
Pedal bass menggetarkan
Vokal lantang kutuk sistem tak relevan



Adalah sebuah anthem senang - senang yang saya ciptakan bersama band saya Mangsa, yang di dedikasikan penuh untuk mereka yang tak pernah melewatkan satu kalipun malam minggu mereka untuk menonton konser band favoritnya bersama teman!
You're the fukkin rule..!!!

Thursday, October 8, 2015

LINEAR

Apa yang kau lakukan tatkala hujan berjanji untuk kembali esok hari.
Menepiskan tiap bulirnya karena tau esok ia akan datang dan berulang.

Aku tidak demikian!

Karena seribu rintiknya nihil ku rengkuh pertanggung jawabannya.

Aku takut awannya, anginnya dan mentarinya menolak koalisi presipitasi dan aku merugi.
Rugi atas asa yang ku junjung tinggi.
Rugi atas ingkar yang tidak menjadikannya linear.


September 22 2015



Puisi ini sebenarnya di buat berdasarkan tantangan seorang teman yang cukup sering menginspirasi saya secara personal. Dan jika memutar jauh ke belakang, dulu kegiatan menulis puisi sebenarnya cukup sering saya lakukan, tepatnya saat duduk di Sekolah Menengah Pertama.

Namun dikarenakan sistem pengarsipan yang kurang baik pada masanya, jadilah tak ada yang tersisa dari kumpulan bait hiperbola yang saya ciptakan pada saat itu.

Dan saat di tantang untuk menulis puisi kembali! Kenapa tidak?!