Friday, September 30, 2016

JANGAN LAKUKAN 5 HAL INI JIKA UANG LOGAM BERGAMBAR WAJAH PAHLAWAN RESMI DITERBITKAN

Pahlawan adalah bukti kegagahan suatu bangsa.

Beberapa minggu ini, cukup ramai bertebaran berita tentang akan diterbitkannya uang rupiah dengan desain baru yang akan dicetak oleh Bank Indonesia melalui Perum Peruri pada akhir tahun ini, tepatnya ada 11 sosok pahlawan yang akan menghiasi tampilan uang baru tersebut, 7 diantaranya akan berada pada uang kertas dan 4 pada uang logam.

Jika kita berbicara tentang uang kertas, sosok pahlawan yang ada didalamnya adalah hal yang sudah biasa, karena memang uang kertas yang beredar selama ini telah menggunakan wajah pahlawan sejak lama. Namun akan menjadi sebuah sejarah baru jika hal tersebut diterapkan untuk uang logam, pasalnya selama ini uang logam dibuat dan di edarkan kepada masyarakat selalu bergambar flora atau fauna endemik khas Indonesia.

Diberitakan, 4 sosok pahlawan yang akan berada dalam uang logam tersebut diantaranya Pahlawan Nasional Mr. I Gusti Ketut Pudja dengan pecahan Rp 1.000, Pahlawan Nasional Letnan Jendral TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang dengan pecahan Rp 500, Pahlawan Nasional Dr. Tjiptomangunkusumo dengan pecahan Rp 200 dan Pahlawan Nasional Prof. Dr. Ir. Herman Johanes dengan pecahan Rp 100. 

Lalu, kita tentu paham tentang betapa terhormatnya gelar pahlawan yang disandangkan kepada sosok-sosok berjasa untuk negara tersebut, hal itu juga telah diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009 tentang tata cara penggunaan lambang negara dimana terdapat ancaman sanksi pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000 jika kita kedapatan melanggarnya.

Adapun 5 hal yang tidak boleh lagi dilakukan jika uang logam bergambarkan sosok pahlawan:

1. Di Lubangi Untuk di Jadikan Cincin

Kalau kalian anak yang besar ditahun 2000-an pasti tahu kegiatan ini, biasanya uang logam pecahan gope-an warna keemasan dengan gambar bunga melati yang selalu dijadikan sasaran empuk mengasah kreatifitas. Uang itu dilubangi menggunakan paku, terus di gerinda sampai tersisa bagian pinggirnya saja, lalu digosok pakai braso atau minyak tanah supaya makin mengkilat hasilnya. Zaman itu juga kita percaya bahwa semakin tua tahun produksinya katanya makin banyak kadar emas yang ada didalamnya,makanya kalau di jadin cincin lebih bagus.

2. Di Lubangi Untuk di Jadikan Kalung

Karena menemukan koin cina yang tengahnya berlubang termasuk susah pada saat itu, jadilah anak-anak pada zaman itu mencari alternatif lain agar tetap keliatan keren dan bergaya, hampir sama dengan proses membuat cincin tapi kalau ini lubangnya dibuat kecil dan berada di tepi lingkaran koin. Tapi karena gaya-gayaan itu dibawa ke sekolah untuk ajang pamer, dan alhasil kalung koin handmade itu menjadi sitaan pihak guru karena memang rata-rata setiap sekolah melarang muridnya menggunakan kalung, seperti preman katanya.

3. Untuk Kerokan

Sepertinya kalau ini masih dilakukan sampai sekarang ya, pasti kalau ada keluarga atau temen yang mengeluh masuk angin langsung minta tolong dikerokin pakai uang logam, tapi biasanya cuma uang logam emas saja diminati, karena kalo pakai koin yang perak banyak yang kesakitan karena sisi lingkarannya yang tidak halus. Kenapa kerokan juga dilarang? kan engga merusak koin. Yap... memang benar kerokan dengan koin tidak merusak bentuknya, tapi pernah tidak kalian menemukan koin yang kotor, buluk dan menghitam karena terlalu seringnya terkena balsem dan kotoran badan (daki) dari orang yang dikerok? Haha.

4. Dilempar ke Kolam Ikan atau Situs Bersejarah

Yang ini agak berbau mistis atau tahayul, dan sepertinya masih banyak dilakukan oleh sebagian orang yang sedang travelling ke tempat-tempat kuno/ bersejarah di pelosok daerah. Dengan keyakinan bahwa jika kita melemparkan koin kedalam air sambil memohon doa dalam hati, maka segala permintaan kita akan terwujud. Sebenarnya ini juga tidak merusak bentuk dari uang logam tersebut, tetapi kegiatan itu sama seperti membuang dengan sengaja simbol negara dimana terdapat pula gambar pahlawan didalamnya, dan sepertinya akan ada juga sanksi bagi siapapun melakukan itu. Dan bila boleh saya memberi saran, mungkin lebih baik jika uang logam itu kita tabung dalam celengan ayam yang jelas-jelas dapat mengkabulkan doa kita untuk membeli mobil 10 atau 20 tahun yang akan datang.

5. Terserak di Jalanan Karena Dianggap Tidak Bernilai

Kadang kita jumpai di pinggir jalan dalam keadaan rusak akibat terlindas motor atau mobil, tapi kita juga tidak menghiraukannya karena dianggap tidak dapat di belikan sesuatu, umumnya itu uang logam dengan nominal Rp 100 atau Rp 200. Namun jika nanti yang kalian temukan di jalan adalah uang logam dengan gambar pahlawan nasional kita, apakah kita tega dan tetap membiarkan gambar ksatria yang berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia itu terinjak-injak oleh para pejalan kaki yang lalu-lalang? Jawabannya ada dihati kalian masing-masing.

Jadi bagaimana, masih ingin menyia-nyiakan uang logam jika desainnya sudah bergambar pahlawan nasional kita? dan jangan lupa juga bahwasanya ada sanksi hukum yang siap menjerat kita, karena sejatinya uang dan gambar pahlawan adalah simbol atau identitas dari negara kita yang telah diatur oleh undang-undang.

HARI GINI CITA-CITA JADI PAHLAWAN? KLISE!

Kita sebagai anak muda yang masa kecilnya selalu dijejali dengan berbagai kartun kepahlawanan asal jepang, dimana bertarung adalah satu-satunya jalan untuk menumpas kejahatan. Pada saat kanak-kanak pula, sosok pahlawan yang kita amini adalah seorang tokoh yang mengenakan topeng dan seragam yang selalu siap sedia menolong dimanapun dan kapanpun ia berada. Di usia sekolah, kita kembali ditawarkan dengan varian pahlawan nyata dari sosok lokal yang berjuang  memerangi penjajah dimasa kemerdekaan. Kita diwajibkan menghafal setiap nama yang ada di poster ruang kelas sekolah pada saat pelajaran sejarah berlangsung. Dari sana wawasan kita dibuka bahwasanya tidak selamanya pahlawan akan memenangkan pertempuran dan hidup bahagia diakhir cerita seperti di film kartun minggu pagi yang dulu kita tonton.

Namun apakah susah menjadi pahlawan hari ini?.

Kita memang tidak sedang dalam bahaya serangan monster-monster menyeramkan yang siap menghancurkan dunia beserta isinya, kita juga tidak sedang dalam invasi militer bangsa lain dimana mereka menjajah negara kita seperti 71 tahun silam. Namun bukan berarti kita harus melakukan hal serupa dan mempertaruhkan nyawa kita untuk bisa menjadi seorang pahlawan, di zaman ini kita dihadapkan dengan penjajahan yang jauh lebih kejam dan tidak berperikemanusiaan yang justru dilakukan oleh oknum dari bangsa kita sendiri, yaitu korupsi. Itu adalah kejahatan yang wajib kita lawan sebagai anak muda guna menciptakan kemerdekaan yang hakiki di negeri ini. Oleh karena itu, masih sangat terbuka kesempatan bagi kita anak muda untuk menjadi pahlawan, khususnya untuk berperang melawan korupsi di Indonesia.

Memang hingga saat ini negara belum pernah meng-anugerahkan penghargaan bagi mereka yang mati-matian memerangi korupsi di negeri ini, apalagi membuatkan patung monumental guna mengenang jasa pegiat anti korupsi, maka jangan pula mengharapkan pemerintah akan  memberikan tunjangan sebesar Rp. 50jt pertahun untuk ahli waris dari pahlawan anti korupsi seperti yang mereka berikan kepada pahlawan konvensional. Meskipun tanpa monumen dan penghargaan bukan berarti para pejuang anti korupsi tersebut lantas akan dilupakan jasa-jasanya, justru nama mereka akan selalu harum dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia yang selalu memimpikan kesejahteraan merata di republik ini.

Jika masih banyak anak muda yang berpikiran bahwa bila ingin menjadi seorang pahlawan itu harus siap gugur dalam medan perang dan bersimbah darah, hidup sengsara serta wajib mengangkat senjata. Lekas ubah pola pikir yang seperti itu kawan, memang saat ini yang kita perangi adalah musuh yang paling jahat, namun musuh terjahat ini justru dapat kita kalahkan hanya dengan tindakan paling sederhana, yaitu gelengkan kepala dan katakan tidak pada korupsi. Sekilas memang terdengar basi, tapi hanya itu cara paling ampuh untuk dapat memberantas korupsi, kolusi serta nepotisme.

Hanya dengan berkata Tidak! pada tawaran menggiurkan tersebut kita telah memutus mata rantai praktek-praktek korup yang lainnya, dan jika itu dilakukan secara masif oleh seluruh anak muda yang notabene akan menjadi pemimpin suatu hari nanti, maka yakinilah Indonesia akan menjadi negara yang sejahtera dan maju. Sangat mudah bukan? lantas tunggu apalagi? Ini adalah satu-satunya cara yang paling mudah untuk kita sebagai anak muda untuk menjadi pahlawan bagi tanah kelahiran kita. Spread this action and become the next heroes!

Friday, September 23, 2016

WARPAINT MERILIS ALBUM BARU BERJUDUL "HEADS UP"


Supergirl indie rock psychedelic asal Los Angeles, California, Warpaint secara resmi merilis albumnya pada tanggal 23 September kemarin, seperti dilansir dari official website mereka, album penuh ke 3 setelah The Fool 2010 dan Warpaint 2014 ini diberi judul Heads Up dan digarap oleh Rough Trade Records selaku label rekaman mereka.

Heads Up sendiri mereka kerjakan mulai Januari 2016, setelah sebelumnya sepanjang tahun 2015 para personil disibukan dengan project solonya masing - masing. Album ini diproduseri oleh Jacob Bercovici, orang yang juga bertanggung jawab atas debut EP mereka bertajuk Exquisite Corps yang dirilis pada tahun 2008 secara berdikari.

Direkam di dua studio berbeda, yaitu di Papap's Palace dan studio pribadi mereka House on The Hill, yang berlokasi di pusat kota Los Angeles. Proses rekaman album ini cukup terbilang baru bagi para personilnya, dimana untuk pertama kalinya mereka melakukan rekaman secara berpasangan atau terpisah per-instrumen, bukan yang seperti biasa mereka kerjakan yaitu secara live.

Band yang berangotakan Emily Kokal (gitar/vokal), Theresa Wayman (gitar/synth), Jenny Lee Lindberg (bass) dan Stella Mozgawa (drum) ini melepas sebelas lagu pada album mutakhirnya. Setelah sebelumnya mereka melepas single pertama yang berjudul "New Song" pada hari Senin (1/8) via kanal YouTube mereka, dilanjut dengan lagu "Whiteout" tepat satu bulan kemudian.

Dengan metode penjualan Pre-Order, album tersebut sudah dapat dipesan via situs resmi label rekaman mereka, tersedia empat format rilisan yang mereka tawarkan secara terpisah yaitu Deluxe LP, Standard LP, CD dan MP3. Sementara untuk versi digital sudah terdistribusi di iTunes, Amazon.com, Spotify dan Apple Music.

Dalam pembelian Deluxe LP, terdapat piringan hitam dan merah muda dilengkapi dengan vinyl format 7 inch berisikan lagu "I'll Start Believing" dan "No Way Out" beserta kode download digital album. Dan untuk 500 pemesan Deluxe LP ataupun CD yang pertama akan mendapatkan postcard yang telah ditanda tangani, sementara selebihnya hanya akan mendapatkan postcard tanpa tanda tangan.