"Aku akan menjadi karang di lautan mereka. Aku akan menjadi kanker dalam tubuh mereka."
Itu adalah potongan lirik dari lagu "Ilmu Politik" milik trio minimalis Efek Rumah Kaca dengan barisan sajak maksimalis seraya sebuah ancaman bagi para politisi korup di negeri ini.
Secara tidak berdasar saya selalu mengasumsikan bahwa fungsi dari sebuah lagu selain untuk peneman sebuah momen juga sebagai alat pengancam berbagai momen yang tidak relevan.
Lagu sendiri adalah suatu kesatuan dari musik dan lirik, dan lagu yang bagus adalah lagu yang dapat menyatukan kedua ramuan tersebut menjadi padu. Amat jarang saya temui lagu bagus yang diciptakan orang sekaliber maestro musik sekalipun yang hanya bermodalkan musik yang bagus atau sebaliknya.
Namun bagi saya, secara pribadi saya menganggap bahwa lagu yang bagus terlahir dari lirik yang "cerdas", tidak peduli ia dibalut dengan musik seperti pop, rock, jazz bahkan dangdut sekalipun. Hanya lirik yang menjadi poin penilaian utama saya dan musik hanya menjadi pengantar yang bersifat sekunder, atau dengan sombong saya menyebutnya bonus.
Karena logikanya, musik yang tidak enak --menurut persepsi-- sekalipun jika kita dengar secara intens dan berkelanjutan akan menjadi irama yang nikmat dan secara tidak sadar kita lantunkan. Seperti contohnya, banyak musik populer yang diperdengarkan radio akan menjadi besahabat dengan telinga karena intensitasnya, bukan karena kualitasnya.
Berlanjut membahas tentang sajak dalam sebuah lagu, banyak band atau musisi independen yang justru berani melakukan eksplorasi pada divisi liriknya agar pesan dalam lagunya dengan telanjang dapat sampai kepada para pendengarnya. Jelas itu terjadi atas dasar tidak berlakunya batasan yang biasanya di berikan sebuah koorporasi label rekaman jika mereka bernaung di bawahnya.
Namun pada kasus sekarang ini, justru muncul banyak band baru yang mengusung lirik cerdas yang terasa di buat - buat. Dengan bahasa yang terlampau tinggi dan mengikuti ejaan kamus besar bahasa Indonesia, mereka merangkai sebuah sajak intelek yang justru terkesan memaksakan. dan pada akhirnya membuat lagu yang mereka ciptakan menjadi tidak jujur.
Bukankah musik akan terdengar lebih "mengancam" jika sajak yang mereka tuliskan itu jujur dan relevan dengan keadaan yang hendak mereka kritisi. Tidak harus menggunakan bahasa baku yang malah membuat orang menjadi sulit mengerti agar terlihat keren dan cerdas. Kesederhanaan dan kejujuran bahasa dalam sebuah lirik lagu justru yang membuat pesan dari lagu yang mereka bawakan akan tepat tujuan.
Sajak dalam lagu adalah pesan yang seharusnya berefek jangka panjang atau tidak ayal menjadi pegangan hidup dari pendengarnya. Dan tidak sedikit orang yang mengubah pola pikir hidupnya karena imbas dari lirik sebuah lagu yang jujur dan cerdas. Bukan cerdas yang di buat atau di cari demi sebuah pengakuan pendengar.
