![]() |
| Photo: Rendha Rais |
Berlatar judul konser dari Efek Rumah Kaca yang diselenggarakan di kota Bandung belum lama ini yaitu 'Pasar Bisa Dikonserkan' serta melihat fenomena yang sedang di gandrungi tentang antusias kalangan muda ber-plesir ke sejumlah daerah di Indonesia kurang lebih 2 tahun belakangan ini, Saya menangkap sebuah fakta bahwasanya kemampuan finansial anak muda untuk memenuhi hobi atau apapun yang menjadi kegemarannya itu sudah diatas rata-rata.
Bukan hal yang murah untuk mengakomodir apa yang mereka sebut sebagai hobi itu, perlengkapan yang mereka butuhkan, biaya transportasi yang mereka keluarkan dianggap sebanding dengan kepuasan bathin yang mereka dapat. Lalu apa bedanya dengan para penggemar musik saat mendatangi suatu festival yang diselenggarakan di sebuah kota atau bahkan negara lain.
Musik sebagai wisata adalah pilihan baru dari wisata konvensional yang selama ini kita ketahui. Di negara seperti Inggris dan Amerika festival musik tahunan adalah penyumbang devisa yang cukup besar bagi pemerintah. Tiap tahun nya festival musik berhasil mendatangkan pelancong lokal maupun mancanegara dalam jumlah yang sangat banyak.
Seperti di lansir The Guardian tiket untuk Glastonbury 2016 habis dalam waktu 30 menit sejak penjualan tiket dibuka, pada Minggu (4/10). Dengan harga tiket sebesar US$346 atau Idr 4,9jt para pengunjung dari berbagai negara saling berebut untuk mendapatkan tiket perhelatan musik tahunan termahsyur di Inggris tersebut. Jumlah tersebut jelas belum termasuk biaya perjalanan, penginapan dan konsumsi mereka selama disana, jadi bisa dibayangkan berapa nominal yang harus di keluarkan setiap pengunjung jika hendak pergi kesana.
Tidak berbeda dengan di Indonesia, berbagai festival musik tahunan kerap kali di gelar dan tak ayal mendatangkan pengunjung yang tidak sedikit jumlahnya. Kita ambil contoh Java Jazz Festival yang digelar selama 3 hari, tiketnya dijual dengan harga tertinggi yaitu 1,1jt. Jika pengunjung datang dari luar Jakarta maka dibutuhkan biaya penginapan di hotel. Jasa penitipan kendaran pun menjadi bahan pertimbangan bagi pengunjung karena nominalnya yang cukup besar untuk ukuran normal, ditambah lagi dengan biaya konsumsi selama pagelaran berlangsung yang paling tidak merogoh kocek sebesar 100rb dalam sekali makan. Jika di hitung rata - rata seorang pengunjung harus mengeluarkan uang sebesar 2jt sampai dengan 3jt untuk pagelaran tersebut. Namun hal ini acap kali tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah untuk regulasinya.
Bergeser ke festival musik di tiap daerah di Indonesia seperti Bandung Berisik di Bandung, Rockin Solo di Solo, Jazz Gunung di Bromo, Rock In Celebes di Sulawesi, Kukar Rockin Fest di Kalimantan dan masih banyak lainnya. Bukan kah itu semua adalah daerah yang juga menjadi destinasi para wisatawan konvensional, sayangnya pemerintah pusat tidak mampu menjual festival di tiap-tiap daerah tersebut sebagai komoditi wisata. Dan pada akhirnya para promotor event itu sendiri lah yang harus menjual acaranya kepada para pengunjung domestik ataupun internasional.
Pertunjukan musik pada zaman sekarang adalah sebuah industri yang tidak dapat di pandang sebelah mata nilai pemasukannya, dan Indonesia termasuk negara yang cukup beruntung karena kaya akan festival musik tahunan berskala internasional seperti halnya Glastonbury, Lollapaloza,
Download Festival dan masih banyak lagi. Ini adalah wisata jenis baru yang jelas sangat memancing pengunjung dalam jumlah yang sangat banyak dalam pelaksanaannya.

No comments:
Post a Comment