Monday, January 11, 2016

KONSER SINESTESIA : PERSEMBAHAN BERGIZI DARI 'EFEK RUMAH KACA' UNTUK INDUSTRI YANG MALNUTRISI


Jakarta 18 Desember 2015, trio pop yang sangat lekat dengan imej cerdas, simpel dan kritis ini baru saja menyajikan ramuan sehat bertenaga yang dipastikan dapat menambah gairah industri musik yang katanya sedang kekurangan nutrisi ini. Sinestesia adalah obat kuat perkasa yang di racik oleh Efek Rumah Kaca setelah melemahnya libido kreatif mereka atas berbagai macam alasan baik dari ide dan kesibukan dari masing-masing personilnya selama kurun waktu 7 tahun setelah rilisnya album kamar gelap di tahun 2008.

Menggandeng Demajors pada lini distribusinya, album yang berisikan 6 warna dan terdiri dari 14 fragmen ini menjadikannya perjalanan yang panjang nan fluktuatif bagi para penikmatnya. Namun jika anda sudah mendengarkan albumnya secara berulang justru terasa jauh dari kata membosankan, tiap lagu dari album ini tak ayal membuat kita seakan menjadi barisan vokal latar dari teriakan lirih dan tinggi ciri khas dari sang vokalis Cholil Mahmud tersebut.

Dan pada tanggal 13 Januari 2016 yang lalu Efek Rumah Kaca telah berhasil memuaskan para penggemarnya lewat konser yang bertajuk "Konser Sinestesia" dan bertempat di Teater Besar Jakarta. seperti yang dilansir manajemen ERK via twitter, konser yang mengakomodir 1200 penonton itu sudah menjual habis tiketnya beberapa hari setelah penjualan tiket dibuka.

Konser dimulai pada pukul 20.15 wib, telat lima belas menit dari yang semula di jadwalkan. Hal tersebut terjadi karena konser diadakan pada hari kerja dan notabene jam pulang kantor serta cuaca yang hujan gerimis membuat Jakarta semakin semerawut pada sore itu, jadilah panitia harus tetap menunggu para calon penonton yang masih terjebak kemacetan. Termasuk saya dan kedua orang teman yang baru tiba di venue sekitar pukul 20.00.

Bangku Teater Besar sudah hampir penuh saat kami datang, namun masih terlihat satu atau dua kursi yang kosong dikarenakan pemiliknya masih berada diluar gedung. Dan suasana di dalam gedung pun masih banyak penonton yang berlalu-lalang karena terburu-buru ingin cepat menemukan tempat duduknya, ada pula sedikit kendala teknis yang dialami beberapa penonton yaitu double seating dikarenakan sistem pendataan yang agak diburu waktu. Panggung pun masih tertutup kain berwarna merah tua dan tersorot oleh cahaya proyektor dengan typography Sinestesia yang sedikit bergoyang-goyang karena hembusan angin di dalam gedung pertunjukan. Hingga konser hendak dimulai semua penonton satu persatu masih memasuki gedung dengan di dampingi oleh pihak panitia yang membawa senter pencahayaan guna mengarahkan dimana kursi mereka berada.

Lima belas menit kemudian dengan perlahan kain penutup panggung disibakkan dan dengan samar memperlihatkan para personil Efek Rumah Kaca beserta para kawan seperti Poppie Airil pada bass, dan Dito Buditrianto pada gitar serta Wisnu Aji dari Monkey To Millionaire, Monica Hapsari, Natasha Abigail dan Irma Hidayana pada barisan vokal mengenakan kostum bernuansa hitam dan putih dengan tata lampu di setel remang. Konser Sinestesia sendiri dibagi menjadi dua babak, dibabak pertama mereka memainkan lagu-lagu pilihan dari dua album terdahulu mereka yang berjudul Efek Rumah Kaca (2007) dan Kamar Gelap (2008) diiringi kemegahan orkestra arahan Alvin Witarsa yang menemani paduan suara penonton yang tak henti-hentinya ikut bernyanyi bersama sang vokalis hingga babak pertama usai.

Lalu setelah turun minum selama kurang lebih 15 menit, seperti pada babak pertama tanpa aba-aba kain yang sebelumnya menutup panggung kembali terbuka dan langsung disambut dengan lagu-lagu dari album mutakhir mereka. Sinestesia dimainkan sesuai dengan urutan yang ada dalam cd dan Merah dengan fragmennya Ilmu Politik, Lara Dimana-mana serta Ada Ada Saja menjadi nomor pertama yang juga dibantu oleh Ricky Virgana dari White Shoes And The Couples Company pada divisi cello, Andi 'Hans' Sabaruddin pada gitar, Muhammad Asranur pada kibor, Agustinus Panji Mardika pada vokal latar dan trompet, clarinet serta Wahyu Hidayat pada flute. Dan yang membuat konser ini terasa lebih istimewa adalah kehadiran Adrian Yunan Faisal bassis asli Efek Ruma Kaca yang memang harus istirahat pada setiap show dikarenakan penyakitnya ikut mengisi bagian vokal mendampingi Cholil.

Biru dilantunkan dengan Pasar Bisa Diciptakan setelah Ricky Surya Virgana meninggalkan panggung, dengan tata lampu yang juga menjadi biru semua yang datang pada malam itu lantang bernyanyi bersama karena memang lagu tersebut adalah yang pertama diperdengarkan kepada publik sebelum album ini dapat di akses, disambung dengan Cipta Bisa Dipasarkan sebagai bagian kedua dari Biru yang tetap menjaga ritme lagu tanpa terdengar pergantiannya.

Sebelum Jingga dengan Hilang-nya dimainkan, Cholil sempat mengambil waktu untuk ucapan terima kasihnya kepada pihak-pihak yang mendukung konser tersebut. Nyala Tak Terperikan menjadi lagu selanjutnya yang mereka bawakan, sangat menggetarkan saat Adrian mengambil alih vokal utama dalam lagu ini yang dibantu alunan suara dari Monica Hapsari serta gesekan senar dari Andi 'Hans' Sabaruddin. Nuansa hikmat yang diciptakan benar-benar sampai kepada penonton yang menyaksikan dan dengan sangat manis diakhiri dengan instrumentalia dari Cahaya, Ayo Berdansa...

Cahaya hijau sontak memenuhi setiap sisi panggung tatkala lagu Keracunan Omong Kosong dan Cara Pengolahan Sampah dilantunkan, dibubuhi ilustrasi cahaya yang juga di lemparkan pada bagian belakang panggung semakin menambah kuat pesan yang ingin mereka sampaikan pada tiap lagu. Dan seorang Irwan Ahmett lah yang bertanggung jawab atas semua tata visual menakjubkan yang terjadi selama pertunjukan tersebut.

Ada dan Tiada adalah yang selanjutnya mereka bawakan, putih adalah refleksi warna yang terbentang diatas panggung selama dua fragmen tersebut dimainkan. Konsep kesedihan dan kebahagian adalah potret yang diambil dan menjadi tema kedua lagu tersebut. Tentang kematian yang dijadikan sudut pandang menuju sebuah keniscayaan serta sebuah harapan dari kelahiran yang ditujukan untuk masa depan. Pada lirik dalam lagu ini saya dibuat bedecak kagum, pasalnya Adrian dan Cholil sangat pintar memproyeksikan sebuah kematian kedalam perspektif yang berbeda.

Pertunjukan yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut diakhiri dengan lagu Keberagaman dalam warna kuning yang terpancar serta dihiasi oleh paduan suara anak berjumlah 5 orang yang berpakaian serba putih. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan dapat menyaksikan konser tunggal trio pop minimalis yang dikabarkan akan kembali rehat dalam kurun waktu yang cukup lama ini, dikarenakan sang vokalis harus ikut menemani keberangkatan sang istri dalam rangka kuliah ke luar negeri.

Konser ditutup dengan pembacaan deretan nama dari pihak-pihak yang terlibat dalam pagelaran tersebut, lalu disambut oleh semua pengisi acara yang ramai-ramai menyanyikan lagu daerah yang berasal dari Suku Dayak Kenyah, Samarinda berjudul Leleng. Belum ada penonton yang beranjak dari kursinya sampai lagu tersebut berhenti di nyanyikan dan sambutan yang sangat meriah dari semua yang datang pada malam itu menghantarkan kain penutup panggung yang kembali tertutup. Dan pada akhirnya Konser Sinestesia dari Efek Rumah Kaca menjadi sebuah persembahan yang sangat bergizi untuk belantara industri yang konon malnutrisi.

No comments:

Post a Comment