Apa yang kau lakukan tatkala hujan berjanji untuk kembali esok hari.
Menepiskan tiap bulirnya karena tau esok ia akan datang dan berulang.
Aku tidak demikian!
Karena seribu rintiknya nihil ku rengkuh pertanggung jawabannya.
Aku takut awannya, anginnya dan mentarinya menolak koalisi presipitasi dan aku merugi.
Rugi atas asa yang ku junjung tinggi.
Rugi atas ingkar yang tidak menjadikannya linear.
September 22 2015
Puisi ini sebenarnya di buat berdasarkan tantangan seorang teman yang cukup sering menginspirasi saya secara personal. Dan jika memutar jauh ke belakang, dulu kegiatan menulis puisi sebenarnya cukup sering saya lakukan, tepatnya saat duduk di Sekolah Menengah Pertama.
Namun dikarenakan sistem pengarsipan yang kurang baik pada masanya, jadilah tak ada yang tersisa dari kumpulan bait hiperbola yang saya ciptakan pada saat itu.
Dan saat di tantang untuk menulis puisi kembali! Kenapa tidak?!
September 22 2015
Puisi ini sebenarnya di buat berdasarkan tantangan seorang teman yang cukup sering menginspirasi saya secara personal. Dan jika memutar jauh ke belakang, dulu kegiatan menulis puisi sebenarnya cukup sering saya lakukan, tepatnya saat duduk di Sekolah Menengah Pertama.
Namun dikarenakan sistem pengarsipan yang kurang baik pada masanya, jadilah tak ada yang tersisa dari kumpulan bait hiperbola yang saya ciptakan pada saat itu.
Dan saat di tantang untuk menulis puisi kembali! Kenapa tidak?!
Karna sebutir rintik yang tertuang menghembuskan berjuta kehidupan.
ReplyDeleteBukan tidak mungkin juga sebutir rintik yang tertuang akibatkan berjuta kematian?
DeleteArtinya " Tidak semuanya yang kita harapkan berbanding lurus dengan yang Tuhan tuliskan".